Ekonom Indef Minta Tata Kelola Asuransi Tani Padi Diperbaiki

Smallest Font
Largest Font

Ekonom Senior Indef, Bustanul Arifin, mendorong perbaikan kinerja program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) guna melindungi petani dari dampak kekeringan akibat kemarau 2026 yang diproyeksikan berlangsung hingga November, dilansir dari Investor Daily pada Rabu (29/7/2026).

Program AUTP dirancang sebagai instrumen perlindungan finansial bagi petani anggota kelompok tani dengan luas lahan maksimal dua hektare dari risiko banjir, kekeringan, dan serangan hama sesuai UU No. 19 Tahun 2013. BUMN PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) ditunjuk sebagai pelaksana program ini di lapangan.

Bustanul menilai pemahaman petani terhadap makna substansial AUTP masih minim karena belum menjadi kebiasaan atau budaya di kalangan masyarakat tani.

"Bayangkan, orangnya, jiwanya atau nyawanya sendiri saja tidak diasuransikan, agak sulit untuk berharap bahwa usaha taninya akan diasuransikan," ungkap Bustanul Arifin, Ekonom Senior Indef.

Guna mengatasi hambatan tersebut, Indonesia disarankan mencontoh petani di negara maju seperti Amerika Serikat yang secara rasional membayar premi karena merasakan manfaat langsung saat terjadi kegagalan panen.

"Jika pada musim kemarau, petani mengalami gagal panen, maka perusahaan asuransi yang menanggung kerugian petani. Ada beberapa syarat teknis memang, tapi petani pasti telah memasukkannya kepada perencanaan usaha tahun berjalan tahun depan," rinci Bustanul.

Dalam upaya meningkatkan efektivitas program, pemerintah pusat diimbau untuk memberikan pelatihan berjenjang dan sistematis kepada penyuluh pertanian lapangan dengan Indikator Kinerja Utama (KPI) yang terukur.

"Libatkan universitas seluruh Indonesia, khususnya yang memiliki fakultas pertanian. Nanti akan terjadi interaksi yang semakin baik antara penyuluh dengan para dosen dan peneliti di lapangan," tegas Bustanul.

Pendekatan di setiap daerah juga harus disesuaikan dengan karakter agroekosistem setempat, seperti penggunaan varietas Inpari 30 di Jawa atau varietas Inpari 39, Inpari 42, dan Inpago di wilayah Sumatra, Sulawesi, serta Nusa Tenggara.

"Intinya, semuanya harus dikerjakan secara sistematis, struktural, dan sesuai dengan tugas tanggung jawabnya. AUTP bukan urusan program dan proyek, tapi perubahan perilaku untuk mengelola risiko produksi dan risiko rantai nilai pangan," pungkas Bustanul.

Sebagai bagian dari IFG Holding di bawah ekosistem Danantara, Jasindo terus memperkuat edukasi pola tanam adaptif guna mendukung target swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed