BCA Tingkatkan Frekuensi Dividen Mulai 2026, Begini Efeknya ke Saham BBCA

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Jauhari Mahardhika 23 Aug 2026 | 06:01 WIB

Kantor PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA. (Foto: BBCA)

JAKARTA, investor.id – Kebijakan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA meningkatkan frekuensi pembagian dividen mulai 2026 berpotensi menjadi tambahan penopang bagi saham BBCA. Harganya berpotensi terus naik ke batas atas.

Namun, jika sentimen pasar dan faktor fundamental bergerak negatif, dividen BCA yang dibayarkan lebih sering dinilai belum cukup untuk membendung tekanan pada harga saham.

Mulai 2026, emiten bank berkode saham BBCA tersebut meningkatkan frekuensi dividen interim menjadi tiga kali dalam setahun, yakni pada kuartal II, III, dan IV. Dividen final tetap dibagikan setelah tahun buku, sedangkan dividend payout ratio naik menjadi sekitar 72% dari sebelumnya 68%.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana menilai kebijakan tersebut dapat menjaga minat investor, terutama mereka yang mengandalkan pendapatan tunai dari saham. Pembayaran dividen yang lebih rutin membuat arus kas dari investasi menjadi lebih teratur.

Meski demikian, frekuensi pembagian dividen bukan satu-satunya faktor yang menentukan keuntungan investor. Menurut Hendra, total dividen dalam setahun, pertumbuhan laba, kualitas fundamental, dan prospek bisnis BCA tetap memiliki peran lebih besar dalam menentukan daya tarik saham BBCA.

Jika total dividen relatif sama, pembayaran yang lebih sering terutama memberikan manfaat dari sisi arus kas dan kenyamanan investor. Kebijakan tersebut tidak otomatis meningkatkan nilai intrinsik perusahaan.

Hendra mengatakan, pembagian dividen yang lebih rutin dapat membantu meredam tekanan terhadap saham BBCA, tetapi efeknya tetap terbatas. “Bisa membantu, tapi tidak dapat menjadi benteng yang sepenuhnya menahan tekanan pasar,” kata dia di Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Harga saham tetap dipengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran, sentimen pasar, kondisi sektor perbankan, suku bunga, pertumbuhan laba, hingga arus dana investor asing. Ketika tekanan jual membesar, investor masih dapat melepas saham, meskipun prospek dividennya menarik.

“Dividen lebih tepat disebut sebagai shock absorber atau peredam guncangan,” tutur pendiri Republik Investor tersebut.

Tekanan harga yang sempat terjadi membuat valuasi BBCA lebih rendah. Pada harga Rp 6.450, rasio PE saham BBCA saat ini (trailing twelve months/TTM) sebesar 13,7 kali. Sedangkan forward PE ratio mencapai 12,48 kali. Forward PE ratio lebih rendah dibandingkan PE ratio TTM menunjukkan adanya ekspektasi pertumbuhan laba ke depan.

Menurut Hendra, kondisi itu membuat BBCA mulai menarik dilihat dari perspektif valuasi. Jika fundamental perusahaan tetap kuat sementara valuasi menurun, potensi risk-reward menjadi lebih menarik.

Sebaliknya, valuasi yang lebih rendah belum tentu menunjukkan saham murah apabila penurunannya disebabkan perlambatan laba, meningkatnya risiko kredit, atau memburuknya prospek industri perbankan.

Dari sisi teknikal, pada harga BBCA sekitar Rp 6.450, strategi speculative buy dapat dipertimbangkan bagi investor dengan toleransi risiko yang melihat tanda stabilisasi setelah koreksi panjang.

Target harga pertama di Rp 6.625 atau menawarkan potensi kenaikan sekitar 2,7% dari Rp 6.450. Apabila momentum berlanjut dan resistance berikutnya ditembus, target kedua di Rp 7.000 dengan potensi kenaikan sekitar 8,5%.

Arus dana asing juga mulai memberi sinyal yang perlu dicermati. Berdasarkan data perdagangan BEI, investor asing mencatatkan net buy BBCA sebesar Rp 269 miliar pada perdagangan Jumat (21/8/2026).

“Jika akumulasi tersebut berlanjut, kondisi itu dapat menjadi sinyal positif karena menunjukkan mulai munculnya kembali minat investor asing terhadap BBCA setelah saham tersebut mengalami tekanan,” ujarnya.

Target Harga Rp 8.700

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Nasib Saham Bank Central Asia (BBCA) Berubah Drastis

Asing Belanja Banyak di Saham-Saham Bank

BBRI Sedot Dana Besar, BBCA Kebagian

Perkuat Cash Management, Jurus BBCA Jaga Nasabah Bisnis

Business 7 jam yang lalu Sebanyak 4.545 Rumah Terlayani Jargas PGN PGN terus mengoptimalkan pemanfaatan jaringan gas bumi yang telah tersedia

Business 8 jam yang lalu Tak Terjangkau Pipa, Gas Bumi Tetap Mengalir di Yogyakarta Selain sektor komersial, pemanfaatan CNG mulai merambah kebutuhan pelayanan publik.

Finance 8 jam yang lalu Asbanda Dorong Simpeda Jadi Tabungan Digital Simpeda didorong menjadi kekuatan bersama BPD untuk menggerakkan ekonomi daerah.

National 8 jam yang lalu Ribuan Porsi Makanan Siap Saji Didistribusikan untuk Korban Gempa NTT Baznas salurkan 1.900 porsi makanan siap saji dan buka posko kesehatan untuk pengungsi gempa bumi di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Tag Terpopuler

Terpopuler

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026, Cek Rinciannya

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 22 Agustus 2026, Cek Rinciannya

Emiten Prajogo Mau Akuisisi Bisnis Otomotif Cycle & Carriage

Penulis : Jauhari Mahardhika 23 Aug 2026 | 06:01 WIB

Sementara itu, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham BCA (BBCA) dengan target harga Rp 8.700.

Target harga tersebut mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 3 kali untuk proyeksi 2027.

Adapun risiko utamanya jika pertumbuhan kredit lebih lambat serta potensi memburuknya kondisi ekonomi makro.

Selama Januari-Juli 2026, BBCA mencetak laba bersih (bank only) sebesar Rp 35,3 triliun. Itu masih sejalan dengan ekspektasi.

Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny mengungkapkan bahwa laba bersih BBCA hingga Juli 2026 telah memenuhi 58% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 dan 59% dari target konsensus analis.

Adapun selama tujuh bulan pada 2026 (7M26) tersebut, laba bersih BBCA tumbuh 2% secara tahunan (yoy). Khusus pada Juli 2026, laba bersih BBCA mencapai Rp 5,1 triliun, meningkat 5% yoy atau 12% secara bulanan (mom).

Dari sisi pendapatan, net interest income (NII) atau pendapatan bunga bersih BBCA meningkat 4% yoy menjadi Rp 7,1 triliun pada Juli 2026. NII juga tumbuh 6% dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, secara kumulatif selama 7M26, NII hanya tumbuh 0,3% yoy.

“Pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy sebagian besar terkompensasi oleh tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM),” jelas Victoria dalam risetnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed