BPS Catat Inflasi Agustus 2026 Meningkat 0,21 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan, naik setelah deflasi pada Juli. Inflasi tahunan tercatat sebesar 3,19 persen, dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,51 menjadi 111,97.
Inflasi ini dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa bahan pangan seperti daging ayam ras yang memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen, serta kenaikan harga emas perhiasan dan biaya pendidikan yang mulai meningkat seiring tahun ajaran baru.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, "Pada Agustus 2026 terjadi inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month to month. Secara tahunan atau year on year terjadi 3,19 persen."
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,57 persen dengan sumbangan 0,17 persen terhadap inflasi, terutama dari daging ayam ras. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menyumbang inflasi 0,03 persen, dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,75 persen.
"Selain makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan Jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen dengan inflasi sebesar 0,37 persen," ujar Ateng Hartono.
Di sisi lain, penurunan tarif angkutan udara dan harga bahan bakar minyak non-subsidi menahan laju inflasi. Kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,50 persen, dengan tarif angkutan udara turun yang menyumbang deflasi 0,06 persen, serta bensin yang memberikan deflasi 0,03 persen.
Tekanan harga pangan juga terkait risiko gangguan produksi akibat fenomena El Nino dan musim kemarau yang berpotensi mempertahankan kenaikan harga pangan seperti daging ayam dan cabai rawit.
Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri menyatakan, "Tekanan harga pangan dapat berlanjut di tengah gangguan produksi akibat El Nino dan musim kemarau, meskipun penurunan harga bawang putih dan bawang merah memberikan sedikit penahan."
Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menambahkan, "Inflasi Agustus terutama didorong oleh kenaikan harga pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, dan kedelai." Kenaikan harga cabai rawit mencapai 10,60 persen dan daging ayam naik 8,22 persen.
Penurunan harga bawang merah dan bawang putih masing-masing turun 11,12 persen dan 6,82 persen, membantu meredam tekanan inflasi pangan.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah meningkatkan risiko inflasi impor, mempengaruhi harga barang dengan kandungan impor tinggi seperti elektronik, mobil, dan sepeda motor.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow