IHSG Melemah Akibat Ketegangan AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 18,49 poin atau 0,28% ke level 6.581 pada sesi pertama perdagangan Rabu (2/9/2026), dipicu oleh kekhawatiran pasar atas inflasi global dan potensi kenaikan suku bunga akibat lonjakan harga minyak mentah serta ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, dilansir dari Investor Daily.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah mayoritas indeks saham Asia yang juga bergerak negatif setelah Wall Street menutup sesi perdagangan dengan penurunan. Lonjakan harga minyak yang dipicu oleh ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama tekanan pasar.
Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, eskalasi konflik AS-Iran menyebabkan harga minyak mentah naik. AS melancarkan serangan ke target Iran di sekitar Selat Hormuz, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
"Eskalasi konflik tersebut mendorong harga minyak mentah lebih tinggi. Kenaikan harga energi menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan inflasi dan pada akhirnya mempersempit ruang bank sentral, terutama The Fed, untuk melonggarkan kebijakan moneternya," ujar Pilarmas.
Kekhawatiran pasar juga terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi global yang memicu aksi jual obligasi, didorong oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dan memburuknya kondisi fiskal beberapa negara. Kenaikan yield obligasi ini menambah tekanan pada aset berisiko, termasuk saham.
"Pasar kini semakin mencermati kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan memperketat kebijakan apabila tekanan inflasi kembali meningkat," tambah Pilarmas.
Dari sisi domestik, Pilarmas menyebutkan adanya katalis positif dari kinerja perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus sebesar US$0,12 miliar, sehingga secara kumulatif untuk Januari hingga Juli 2026, surplus mencapai US$3,70 miliar, yang menjadi sinyal positif bagi ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
"Namun, katalis domestik tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan dari sentimen global. Pelaku pasar masih lebih fokus terhadap perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, yield obligasi global, serta prospek kebijakan The Fed," jelas Pilarmas.
Meski IHSG tertekan, beberapa saham justru mencatat kenaikan pada sesi pertama perdagangan, seperti SQMI, SAPX, BELI, KKES, dan TNCA. Sebaliknya, saham BIKE, FUJI, BKDP, SONA, dan COCO mengalami penurunan terbesar.
Untuk sesi kedua, Pilarmas merekomendasikan saham BRIS dengan rating beli, dengan area support di level 1.770 dan resistance di 1.910.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow