BlackRock Sarankan Investor Tetap Simpan Emas Meski Harga Anjlok
Manajer Portofolio BlackRock Global Allocation Strategy, Russ Koesterich, menyarankan para investor untuk tetap mempertahankan eksposur emas dalam portofolio investasi mereka pada Minggu (26/7/2026), dilansir dari Investor Daily. Langkah ini direkomendasikan meski harga emas gagal bertahan di atas level US$ 4.100 per troy ounce.
Koreksi harga emas tercatat mencapai sekitar 25% dari rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari, serta melemah sekitar 7% secara tahunan. Penguatan tajam di awal tahun mengubah fungsi emas sehingga tidak lagi sepenuhnya menjadi aset pelindung nilai saat pasar tertekan.
"Alih-alih memberikan perlindungan ketika pasar turun, emas justru menambah risiko dalam portofolio," kata Koesterich, Manajer Portofolio BlackRock Global Allocation Strategy.
Faktor utama pemicu penurunan harga emas adalah penguatan signifikan indeks Dolar AS (DXY) yang melonjak lebih dari 6% sejak titik terendahnya pada Januari. Selain itu, kenaikan imbal hasil riil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun (TIPS) dari 1,65% menjadi 2,2% turut membebankan pergerakan harga emas.
"Meskipun pembicaraan mengenai strategi investasi untuk mengantisipasi penurunan nilai mata uang semakin ramai, dolar justru menguat tajam sejak mencapai level terendah pada Januari. Indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) telah naik lebih dari 6%," ujarnya Koesterich.
Pergeseran fokus pasar ke saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mencetak pertumbuhan laba tinggi juga menjadi hambatan lain. Kondisi emas yang tidak menghasilkan laba atau arus kas membuat investor mengabaikannya untuk sementara waktu.
"Ketika dolar menguat, suku bunga jangka panjang juga meningkat, terutama suku bunga riil atau suku bunga yang telah disesuaikan dengan inflasi," tuturnya Koesterich.
Suku bunga yang disesuaikan dengan tingkat inflasi tersebut memberi dampak langsung terhadap nilai imbal hasil modal di pasar riil.
"Perubahan kondisi suku bunga tersebut menjadi hambatan lain bagi harga emas," sebut Koesterich.
Persaingan dengan sektor teknologi tinggi juga kian mempersempit minat pasar terhadap komoditas logam mulia.
"Bahkan di pasar saham, kinerja indeks semakin banyak ditopang oleh kelompok perusahaan AI yang jumlahnya makin terbatas, tetapi mencatat pertumbuhan laba sangat tinggi," jelasnya Koesterich.
Meskipun demikian, alasan struktural untuk menyimpan logam mulia dinilai tetap berlaku seiring tingginya defisit dan utang global.
"Alasan struktural untuk memegang emas masih tetap berlaku. Tingkat utang dan defisit masih berada di level historis. Risiko penurunan nilai mata uang juga tetap menjadi ancaman jangka panjang," ungkap Koesterich.
Ketidakstabilan kondisi geopolitik global turut memperkuat alasan mempertahankan porsi moderat emas di dalam portofolio investasi.
"Seluruh faktor tersebut tetap mendukung alasan untuk mempertahankan emas dalam porsi moderat di dalam portofolio," pungkas Koesterich.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow