Bitcoin Naik ke US$ 80.000 Didukung Sentimen Positif dan Treasury Buyback AS
Bitcoin (BTC) menunjukkan kenaikan signifikan dari sekitar US$ 64.000 pada 17 Agustus menjadi menembus US$ 80.000 pada 25 Agustus 2026, didukung oleh perubahan sentimen makro global dan kebijakan Treasury buyback Amerika Serikat, menurut dilansir dari Investor Daily.
Kebijakan Treasury buyback yang meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang AS berperan mendorong minat pada aset berisiko, termasuk pasar kripto. Selain itu, arus dana positif ke Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin juga memperkuat permintaan pasar.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menilai kenaikan harga ini mencerminkan sentimen pasar yang berubah, bukan hanya fluktuasi jangka pendek.
"Momentum Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan. Penguatan harga berjalan bersamaan dengan meningkatnya permintaan melalui ETF spot Bitcoin dan membaiknya kondisi pasar. Namun, kenaikan yang berlangsung cepat tetap perlu diimbangi dengan disiplin dalam mengelola risiko, terutama bagi investor yang baru kembali melihat peluang di pasar," ujar Aloysia.
Menurut data, ETF spot Bitcoin di AS mencatat arus dana masuk sekitar US$ 2,57 miliar selama periode 17–25 Agustus 2026. Crypto Quant juga mencatat Bull Score Bitcoin meningkat dari 30 menjadi 80 dalam sepekan, menandakan optimisme pasar yang tinggi.
Bitcoin mengalami akselerasi harga lebih dari 20% dalam tiga hari sejak 19 Agustus, didukung aksi short squeeze, hingga akhirnya menembus angka US$ 80.000 pada 25 Agustus.
Aloysia mengingatkan pentingnya mengelola risiko karena volatilitas tetap tinggi di tengah kenaikan yang cepat ini.
"Arus dana ETF menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap Bitcoin kembali menguat. Ketika peningkatan permintaan tersebut berjalan bersamaan dengan kenaikan harga, momentum pasar menjadi lebih kuat. Namun, pergerakannya tetap perlu dibaca bersama kondisi makro, likuiditas, aktivitas pasar, dan sentimen investor secara keseluruhan," jelas Aloysia.
Dia menambahkan, "Momentum bullish tidak selalu bergerak dalam satu arah. Fokus investor sebaiknya bukan mengejar harga atau menebak titik tertinggi, tetapi memahami faktor yang menggerakkan pasar dan memiliki rencana menghadapi berbagai skenario."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow