Harga Bitcoin Tembus US$ 77.000 Dipicu Isu Utang AS dan Arus ETF
Harga Bitcoin (BTC) melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Senin (24/8/2026) pagi setelah melesat lebih dari 23% dalam rentang sepekan. Lonjakan aset kripto ini dipicu oleh kecemasan investor terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat (AS), masuknya arus dana ke ETF kripto, serta optimisme lonjakan harga menuju US$ 126.000.
Data CoinMarketCap mencatat harga Bitcoin menguat 0,3% ke level US$ 77.494 per koin atau sekitar Rp 1,36 miliar pada kurs Rp 17.661 per dolar AS. Dilansir dari Investor Daily, pergerakan positif ini juga mendorong kapitalisasi pasar kripto global menanjak 0,76% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,63 triliun.
Dalam kurun sepekan, harga Bitcoin sempat menyentuh level US$ 79.000 pada Jumat (21/8/2026). Pergerakan ini membawa aset digital tersebut menembus indikator moving average (MA) 200 hari untuk pertama kalinya sejak November 2025 yang memberi sinyal momentum bullish jangka panjang.
Membengkaknya utang pemerintah AS hingga melampaui US$ 40 triliun menjadi penopang utama reli kripto. Lonjakan beban bunga utang memaksa pelaku pasar beralih ke aset alternatif di luar sistem dolar AS, termasuk Bitcoin dan emas.
Langkah Departemen Keuangan AS memperbesar alokasi operasi debt buyback menjadi US$ 4 miliar turut memperkuat sentimen positif pasar. Kombinasi faktor defisit fiskal, inflasi, dan kebijakan obligasi ini menguntungkan pergerakan aset kripto serta logam mulia secara bersamaan.
Arus Dana ETF dan Target Harga Bitcoin
Penguatan harga turut ditopang derasnya arus masuk modal ke produk investasi berbasis kripto. ETF Bitcoin dan Ether mengantongi dana segar lebih dari US$ 2,61 miliar sepanjang pekan lalu, yang juga membawa posisi investasi Strategy pimpinan Michael Saylor kembali melampaui titik impas di level US$ 75.385 per koin.
Kondisi pasar yang membaik mendorong lembaga keuangan global seperti Standard Chartered memproyeksikan potensi kenaikan lebih lanjut. Bank tersebut menilai Bitcoin berpeluang memecahkan rekor tertinggi ke kisaran US$ 126.000 sebelum penutupan tahun 2026.
"Jika harga terus menguat, rendahnya open interest saat ini masih memberikan ruang bagi investor baru untuk kembali masuk ke pasar," kata Global Head of Digital Asset Research Standard Chartered Geoff Kendrick.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow