Batam Berpeluang Besar Jadi Kekuatan Logistik Baru di Asia Tenggara

Smallest Font
Largest Font

Pergeseran geopolitik dunia, fragmentasi perdagangan, dan transformasi rantai pasok internasional membuka peluang besar bagi Indonesia. Negara ini dibidik untuk tampil sebagai kekuatan logistik baru di kawasan Asia Tenggara.

Secara posisi geografis, Batam dinilai memiliki lokasi paling strategis. Kawasan ini diproyeksikan menjadi gerbang utama Indonesia menuju ASEAN dan pasar global, seperti dilansir dari Detik Finance.

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), Yukki Nugrahawan Hanafi, menjelaskan letak geografis Batam berada di persimpangan jalur pelayaran penting. Jalur ini menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik serta berdekatan langsung dengan Singapura dan Malaysia.

"Kedekatan geografis Batam dengan Singapura dan Malaysia semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk membangun kolaborasi regional yang saling memperkuat daya saing ASEAN," kata Yukki dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).

Signifikansi posisi Batam terlihat jelas dari volume lalu lintas maritim di Selat Malaka. Berdasarkan data UNCTAD, lebih dari 100 ribu kapal melintasi Selat Malaka sepanjang 2025 dengan mengangkut sekitar 22-25% perdagangan maritim dunia setiap tahun.

Riset Mordor Intelligence mencatat pasar freight and logistics ASEAN diproyeksikan tumbuh dari US$ 288,2 miliar pada 2025 menjadi US$ 390 miliar pada 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi manufaktur, perdagangan elektronik, dan investasi lintas negara dengan tingkat CAGR 6,23%.

Meski begitu, Yukki mengingatkan bahwa keunggulan lokasi saja tidak cukup untuk memenangkan kompetisi logistik saat ini. Daya saing ke depan ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem logistik yang terintegrasi.

Sistem terpadu tersebut harus menghubungkan pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, pergudangan modern, layanan kepabeanan, transportasi multimoda, hingga platform digital.

"Modernisasi pelabuhan harus menjadi prioritas nasional. Transformasi pelabuhan bukan lagi sekadar soal kapasitas dermaga, tetapi mencakup digitalisasi proses bisnis, peningkatan produktivitas terminal peti kemas, hingga penerapan standar internasional yang meningkatkan kepercayaan pelaku usaha global," ujar Yukki yang juga merupakan Ketua Dewan Penasihat ASEAN Federation of Freight Forwarders Association (AFFA).

Pelabuhan Batu Ampar dinilai berpotensi besar bertransformasi menjadi regional container gateway. Fasilitas ini akan melayani perdagangan Indonesia bagian barat sekaligus mendukung aktivitas transhipment, distribusi regional, dan konektivitas multimoda.

Selain pelabuhan, Yukki menyoroti Bandara Internasional Hang Nadim sebagai aset strategis yang belum dimanfaatkan secara optimal. Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 4.025 meter, menjadikannya salah satu yang terpanjang di Indonesia.

Dengan ketersediaan lahan yang luas, Hang Nadim berpeluang berkembang menjadi ASEAN Air Cargo Hub. Konsep integrasi moda transportasi udara dan laut dinilai menjadi kunci penguat bagi Batam.

"Pengembangan kawasan Aerocity, pusat Maintenance, Repair and Overhaul, fasilitas cold chain, hingga layanan express cargo akan memperkuat posisi Batam sebagai simpul logistik udara yang terintegrasi dengan jaringan pelabuhan dan kawasan industri. Konsep sea-air logistics yang memadukan Pelabuhan Batam dan Bandara Hang Nadim ini memiliki keunggulan kompetitif sektor logistik, terutama dalam memangkas biaya dan waktu," tegas Yukki.

Transformasi logistik ini harus didukung pemanfaatan teknologi modern. Penggunaan artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), blockchain, digital customs, predictive logistics, dan port community system menjadi sangat krusial.

Kerja sama internasional seperti melalui AFFA dan FIATA terus mendorong harmonisasi regulasi dan konektivitas logistik di ASEAN. Hal ini penting agar terbangun rantai pasok yang lebih tangguh dan efisien.

"Batam dapat menjadi laboratorium terbaik untuk mewujudkan visi tersebut melalui integrasi pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas dan jaringan logistik nasional," ujar Yukki.

Visi besar tersebut dapat terwujud melalui pembangunan yang terintegrasi, kepastian regulasi, percepatan investasi, dan penyederhanaan perizinan. Dibutuhkan juga kolaborasi erat antara pemerintah, BP Batam, operator bandara, dunia usaha, perguruan tinggi, serta asosiasi profesi.

"Dari Batam, Indonesia dapat memimpin konektivitas ASEAN, memperkuat ketahanan rantai pasok dan menegaskan posisinya sebagai poros maritim, serta pusat logistik yang disegani di tingkat global. Artinya keberhasilan Batam tidak hanya akan meningkatkan daya saing Kepulauan Riau, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan internasional, memperluas peluang investasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Yukki.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed