Bank Mandiri Taspen dan Unsoed Edukasi Masyarakat Tangkal Investasi Bodong

Smallest Font
Largest Font

PT Kolaborasi Mediapreneur Nusantara bekerja sama dengan Bank Mandiri Taspen menggelar kegiatan Media Gathering Banking Insight 2026 di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2026) untuk memperluas literasi keuangan masyarakat, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Upaya sosialisasi tersebut ditujukan guna membentengi masyarakat dari bahaya penawaran produk keuangan ilegal maupun investasi bodong melalui penguatan pemahaman mengenai produk jasa perbankan resmi.

Distribution Head 5 Jateng-DIY Bank Mandiri Taspen, I Putu Agus Sinom Artawan, menyampaikan bahwa masyarakat harus memahami penyesuaian peminjaman kredit berdasarkan kebutuhan serta kemampuan finansial.

"Masyarakat juga harus mengetahui semua proses pengajuan dilakukan sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku," kata Sinom.

Ia memaparkan bahwa seluruh pengajuan pinjaman di bank resmi memerlukan mekanisme bertahap, mulai dari permohonan, penyerahan dokumen seperti KTP dan KK, hingga proses verifikasi serta verifikasi ulang lewat telepon.

"Jadi tidak ada pengajuan yang langsung cair. Semua melalui proses verifikasi, analisa, dan telekonfirmasi kepada calon nasabah," terang Sinom.

Dalam kesempatan itu, pihak bank turut memperkenalkan sejumlah layanan pembiayaan seperti Kredit Mantap Prapensiun, Kredit Mantap Pensiun, dan Kredit Mantap untuk pegawai aktif.

Dosen Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dian Purnomo Jati, menekankan pentingnya masyarakat memverifikasi legalitas lembaga keuangan melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Pastikan benar berasal dari lembaga keuangan yang bersangkutan. Jangan hanya melihat imbal hasilnya, tetapi cek juga aspek legalnya," kata Dian.

Ia membeberkan batasan logis imbal hasil, di mana suku bunga deposito bank umum berada pada kisaran 2,5–4 persen per tahun dan BPR sekitar 5–6 persen per tahun, sehingga penawaran jauh di atas angka tersebut patut diwaspadai.

"Kalau ada yang menawarkan imbal hasil fantastis, jangan langsung percaya. Pastikan dulu legalitasnya dan pahami bisnis prosesnya. Investasi yang sehat menawarkan keuntungan yang logis, bukan janji keuntungan pasti tanpa risiko," jelas Dian.

Ia menambahkan bahwa penerapan prinsip legal dan logis (2L) menjadi kunci utama agar masyarakat terhindar dari penipuan berkedok produk keuangan tidak resmi.

"Literasi keuangan menjadi benteng utama agar masyarakat tidak mudah menjadi korban penipuan berkedok investasi maupun produk keuangan ilegal," ucap Dian.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed