Bakti BCA Dorong Desa Wisata Kuasai Gastronomi Flores lewat Dapur Tara
PT Bank Central Asia Tbk menggelar workshop peningkatan keterampilan gastronomi bagi sembilan pengelola Desa Bakti BCA di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (8/7/2026).
Melalui program corporate shared value Bakti BCA, para peserta didorong untuk menggali kekayaan kuliner lokal, lalu menghubungkannya dengan sejarah, seni, dan budaya daerah.
Seperti dikutip dari Investor Daily, kegiatan pelatihan ini dipusatkan di Dapur Tara yang berlokasi di Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menjelaskan bahwa kuliner lokal merupakan salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa.
"Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa. Kami ingin mendorong pengelola Desa Bakti BCA makin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga menjadi penggerak ekonomi berkelanjutan," kata Hera F Haryn dalam keterangannya.
Dapur Tara bertindak sebagai fasilitator workshop yang mendampingi para peserta dan media mempraktikkan langsung setiap tahapan penyajian makanan tradisional.
Berlokasi sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Labuan Bajo, Dapur Tara berdiri di tengah lanskap perbukitan Flores yang sejuk dan menerapkan konsep prepared dining experience.
Kunjungan wisatawan ke tempat ini dilakukan berdasarkan reservasi terlebih dahulu agar tim dapur dapat menyiapkan bahan segar demi meminimalkan sampah pangan.
Para tamu diajak terlibat langsung meracik bumbu, memasak, serta menyiapkan hidangan tradisional seperti nasi hang kolo yang dimasak di dalam bambu menggunakan bara api.
"Kami menyediakan kuliner khas lokal yang dimasak dari bahan-bahan yang ada di kebun sekitar sini. Semua dikerjakan sesuai kebiasaan kami di Flores, seperti yang dilakukan orang-orang terdahulu," ujar pendiri sekaligus pengelola Dapur Tara, Elisabet Yani Tararubi.
Menjaga Warisan Resep Leluhur
Untuk menjaga keaslian cita rasa masakan Manggarai, perempuan yang akrab disapa Kak Lis ini giat menemui para sesepuh daerah yang rata-rata berusia di atas 80 tahun.
"Saya menemui orang-orang tua yang masih menjaga resep asli Flores. Kami berbincang untuk mengetahui resep asli masakan Flores," tutur dia.
Dapur Tara dirintis sejak 2019 demi mengimbangi modernisasi yang serba instan, sekaligus menjaga keterampilan bertahan hidup dan budaya gotong royong masyarakat setempat.
"Kami mau mengimbangi modernisasi. Waktu kecil, kami makan dari bahan yang ada di kebun dan dimasak dengan api. Kami tidak punya kursi, duduk di lantai untuk menyelesaikan masalah bersama," tutur Kak Lis.
Mimpi Kurikulum Kampung
Selain menawarkan wisata kuliner dan penginapan berkonsep digital detox, Kak Lis memendam cita-cita besar mendirikan sekolah alam bagi anak-anak yang putus sekolah.
"Saya ingin membuat sekolah dengan kurikulum kampung sebagai protes kepada pemerintah. Banyak yang putus sekolah di sini dan tidak betah di kelas," kata Kak Lis.
Sekolah tersebut nantinya memadukan pengetahuan lokal seperti menenun dan bercocok tanam dengan keahlian modern seperti komputer, bahasa Inggris, serta layanan perhotelan.
"Mereka nanti juga kami ajari hospitality, komputer, dan bahasa Inggris. Ketika kita tidak punya uang dan power, ini menjadi cara kita bertahan," tutur dia.
Pada tahap awal, sistem pendidikan akan menyasar 4 hingga 10 anak dengan metode pembayaran barter menggunakan hasil bumi.
"Kalau ada sekolahnya, kami berharap ada regenerasi. Jadi, Lis-Lis berikutnya bisa terus ada," kata dia.
Langkah kecil dari perbukitan Manggarai ini diharapkan mampu memberi contoh nyata dalam menjaga pengetahuan kampung agar tidak lekang oleh perkembangan zaman.
"Menurut saya, tidak perlu besar. Asal bisa menjadi contoh dan memberi manfaat," ujar dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow