Gempa M 7,7 Terjang NTT Pemicu Tsunami dan Kerusakan Bangunan
Rangkaian gelombang tsunami hingga ketinggian 1,61 meter menerjang kawasan pesisir Nusa Tenggara Timur setelah gempa bumi tektonik dangkal bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026) subuh.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memutakhirkan parameter gempa berkedalaman 15 kilometer tersebut yang dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Pemantauan jaringan observasi muka air laut mencatat gelombang tsunami mendarat di Reo Manggarai dan Manggarai Timur setinggi 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta kawasan Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter.
Peringatan dini tsunami direspon cepat oleh sistem pemantauan BMKG dalam waktu 2 menit 16 detik pascagejola utama, sebelum akhirnya resmi diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah kondisi laut dipastikan aman. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mengonfirmasi telah terjadi sebanyak 235 kali gempa bumi susulan di sekitar lokasi bencana.
Guncangan gempa bumi turut meluas hingga ke kawasan Taman Nasional Komodo dan pusat pariwisata Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Sejumlah wisatawan asing yang sedang menikmati pemandangan matahari terbit di puncak bukit Pulau Padar terpaksa dievakuasi di bawah panduan pemandu wisata setempat.
"Jangan panik guys," kata pemilik akun Instagram @s_toni, pemandu wisata yang mendampingi rombongan turis di Pulau Padar.
Guncangan kuat juga berdampak pada fasilitas akomodasi di Labuan Bajo, termasuk kerusakan fisik pada struktur bangunan Hotel Jayakarta. Tembok bagian depan hotel bintang empat tersebut roboh, puing batu bata berserakan, dan bagian plafon lantai satu jebol hingga mengakibatkan dua turis asal China menderita luka-luka saat berupaya menyelamatkan diri.
"Dibawa ke rumah sakit. Ada yang luka di punggung, ada yang luka di hidung dan kaki," kata kerabat korban di halaman Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, dilansir detikBali.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa aktivitas seismik dari sesar aktif ini memerlukan interval waktu tertentu untuk mencapai stabilisasi penuh. BMKG menyiagakan tim ahli dari pusat dan 14 Unit Pelaksana Teknis se-NTT untuk melakukan pemetaan mikrozonasi tanah guna memberikan rujukan teknis rekonstruksi bangunan tahan gempa.
"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta.
Berdasarkan peta intensitas, guncangan terkuat mencapai skala VII MMI di Aesesa Kabupaten Nagekeo, Riung Kabupaten Ngada, Kota Ambai, serta wilayah Manggarai dan Ruteng. BMKG mengimbau warga agar tetap tenang, menghindari bangunan retak, serta memantau pembaruan data resmi yang ditopang oleh 553 sensor seismograf di seluruh Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow