Pemerintah Imbau Asumsi Makroekonomi RAPBN 2027 Disusun Realistis

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Bambang Ismoyo 18 Aug 2026 | 20:34 WIB

Presiden Prabowo Subianto mengacungkan kepalan tangan saat menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Fauzan/bay/kye)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah dinilai perlu menyusun asumsi makroekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 secara realistis, terukur, dan tidak terlalu optimistis. Indef menilai asumsi yang terlalu optimistis berisiko menyulitkan pencapaian target fiskal apabila kondisi perekonomian tidak sesuai dengan proyeksi.

Sejumlah indikator utama dalam RAPBN 2027, mulai dari pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, lifting minyak, inflasi, hingga imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), menjadi perhatian karena akan menentukan arah kebijakan fiskal dan kemampuan pemerintah mencapai target penerimaan negara.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Indef, Abdul Manap Pulungan menilai asumsi makroekonomi tidak semata-mata harus dipatok tinggi. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan setiap asumsi memiliki peluang besar untuk dicapai.

“Yang paling tepat itu relatif, tapi arahnya bagaimana berbagai indikator itu bisa dicapai. Kalau meleset, harus jelas apa langkah pemerintah,” ungkap Abdul Manap saat dihubungi, Selasa (18/8/2026).

Pertama, target pertumbuhan ekonomi tahun 2027 sebesar 6%. Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi perlu disusun lebih konservatif. Pasalnya, pertumbuhan sebesar 5,5% saja belum konsisten dicapai dari tahun ke tahun.

Kedua, nilai tukar rupiah dipatok berada di level Rp 17.500 per dolar AS. Menurut Abdul Manap, berbeda dari target pertumbuhan ekonomi, target nilai tukar rupiah itu mengindikasikan kecenderungan pesimistis. Dengan posisi rupiah di kisaran Rp 17.800 per dolar AS dan memiliki ruang penguatan hingga akhir tahun, target Rp 17.500 per dolar AS pada tahun depan memberikan sinyal bahwa pemerintah memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar masih akan berlanjut.

“Kalau rupiah ditetapkan lebih lemah, artinya kita sudah berekspektasi akan terjadi tekanan ke depan,” ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu menyusun asumsi nilai tukar yang lebih mencerminkan upaya memperkuat daya tahan rupiah, bukan sekadar mengantisipasi pelemahan.

Indikator lain yang menjadi sorotan adalah asumsi imbal hasil SBN sebesar 6,9% pada 2027. Target ini juga dinilai terlalu optimistis di tengah tekanan ekonomi global. Abdul Manap mengatakan, pemerintah memang perlu mencari ruang agar tingkat imbal hasil tersebut dapat ditekan lebih rendah.

Pasalnya, yield SBN menjadi salah satu indikator yang mencerminkan beban pembiayaan fiskal. Semakin tinggi imbal hasil, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung pemerintah untuk membiayai utang.

Pada gilirannya, asumsi makroekonomi dalam APBN bukan hanya sekadar angka dalam dokumen anggaran. Asumsi tersebut juga menjadi sinyal bagi masyarakat dan investor mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Abdul Manap menerangkan, perubahan asumsi makroekonomi baru menjadi mendesak apabila terjadi perubahan ekonomi yang signifikan, seperti krisis global atau gejolak besar yang membuat kondisi ekonomi berbeda jauh dari proyeksi awal.

Namun, perubahan APBN membutuhkan proses persetujuan bersama DPR sehingga tidak dapat dilakukan secara cepat. Karena itu, penyusunan asumsi RAPBN 2027 sejak awal perlu dilakukan dengan pendekatan yang realistis, terukur, dan tidak terlalu optimistis.

“Perubahan asumsi itu bisa berubah bagaimana defisit APBN. Itu kalau ada perubahan signifikan dalam perekonomian terutama karena krisis,” pungkas Abdul Manap Pulungan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Ekonom: Manufaktur Butuh Dukungan Fiskal untuk Bangkit

APBN 2027 Boleh Gemuk, tapi Harus Efektif

Empat Asumsi Makro RAPBN 2027 Mungkin akan Meleset

Target Pendapatan 2027 Bisa Meleset jika Ekonomi Tak Tumbuh 6%

Macroeconomy 5 menit yang lalu Indef: Asumsi RAPBN 2027 Jangan Terlalu Optimistis Indef meminta pemerintah menyusun asumsi RAPBN 2027 secara realistis, terutama pertumbuhan ekonomi, rupiah, dan yield SBN.

Market 21 menit yang lalu Laba Bersih BCA (BBCA) hingga Juli 2026, Mulai Ada Percepatan Laba bersih BCA (BBCA) mencapai Rp 35,3 triliun hingga Juli 2026. Stockbit melihat NIM dan pertumbuhan kredit mulai membaik.

Market 24 menit yang lalu Resep AVIA Raup Laba Rp938 Miliar di Tengah Masifnya Tantangan PT Avia Avian Tbk (AVIA) atau Avian Brands mencatatkan pertumbuhan laba bersih di atas 20% menjadi Rp938 miliar semester I-2026.

Macroeconomy 26 menit yang lalu Indonesia Butuh Lapangan Kerja, Bukan Sekadar Pertumbuhan Tinggi Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026, tetapi ekonom menilai penciptaan lapangan kerja berkualitas masih menjadi tantangan.

International 42 menit yang lalu Rusia Peringatkan Inggris Akan Bayar Mahal Usai Dihantam Drone Rusia peringatkan Inggris akan "bayar harga mahal" usai drone buatan Inggris dipakai Ukraina serang wilayah Rusia.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed