AS dan Korea Selatan Akhiri Latihan Militer Lebih Cepat
Militer Amerika Serikat dan Korea Selatan mengakhiri latihan gabungan tahunan Ulchi Freedom Shield enam hari lebih awal pada Jumat (21/8/2026). Langkah pemangkasan durasi ini diambil atas perintah Presiden AS Donald Trump untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea.
Keputusan mendadak tersebut diambil Presiden Donald Trump sesaat sebelum latihan dimulai pada Senin. Trump mengutip hubungan baiknya dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta penolakan Korea Selatan mendukung AS di Iran sebagai pertimbangan utama.
Pengurangan skala latihan ini memicu kekhawatiran terkait kesiapan operasional gabungan kedua negara. Di sisi lain, Korea Selatan kini menghadapi tekanan kawasan akibat pemotongan durasi latihan militer tersebut.
Pemerintah Korea Utara merespons keputusan tersebut melalui pejabat senior Kim Yo Jong. Adik perempuan Kim Jong Un tersebut melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah Korea Selatan dalam pernyataan resmi yang dirilis media pemerintah Korut pada Kamis (20/8/2026) malam.
"Trump mengeluarkan perintah mendadak untuk mengurangi skala latihan tersebut. Hal ini menempatkan Seoul dalam situasi sulit karena mereka harus membatalkan 'latihan perang' yang sangat mereka sukai," kata Kim Yo Jong, juru bicara utama rezim Korut.
Kim Yo Jong menilai pengurangan durasi latihan tidak mengurangi sifat provokatif dari agenda militer tersebut. Ia juga menyoroti ketergantungan keamanan Korea Selatan kepada Washington.
"Inilah nasib tidak terelakkan dari pasukan boneka," kata Kim Yo Jong, pejabat berpengaruh Korea Utara.
Ejekan tersebut dilontarkan setelah Kim Yo Jong mengkritik respons Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Lee sebelumnya menyatakan menghormati keputusan Trump namun berjanji memperkuat kemampuan militer mandiri.
"Sembari menjilat Trump dengan komentar memalukan seperti 'menyampaikan rasa hormat' atau menyebut pengurangan latihan itu sebagai 'keputusan berbobot yang penuh pertimbangan matang', Lee Jae Myung yang belakangan justru berbicara soal pertahanan mandiri dan pengamanan kemampuan militer independen untuk mengantisipasi skenario terburuk, telah menyingkap psikologi Korea Selatan yang kontradiktif, dipenuhi kecemasan dan kegelisahan, melalui sikap munafik dan bermuka dua tersebut," sebut Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un.
Pemerintah Korea Utara menilai perubahan kebijakan latihan militer gabungan ini menunjukkan dinamika baru hubungan Seoul dan Washington. Pyongyang menganggap bantuan militer AS kini menuntut kompensasi lebih besar.
"Dunia menyaksikan kenyataan bahwa bantuan keamanan AS tidak lagi diberikan secara cuma-cuma," sebut Kim Yo Jong, juru bicara rezim Korut.
Ia menegaskan bahwa Korea Selatan harus menyadari posisi politiknya di tengah dinamika kawasan saat ini.
"Demi mendapatkan dukungan dari tuan yang tak kenal belas kasihan itu, mereka mungkin harus menyerahkan bahkan tanah tempat mereka berpijak sekalipun," ucap Kim Yo Jong, pejabat senior Korea Utara.
Pernyataan tersebut diakhiri dengan penegasan posisi Pyongyang terhadap pemerintah Korea Selatan.
"Sudah saatnya bagi 'boneka' yang tidak punya tempat tujuan lainnya, untuk menyadari posisi yang digariskan bagi mereka," cetus Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un.
Menanggapi situasi tersebut, Korea Utara meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke arah laut sehari setelah pernyataan awal Kim Yo Jong. Peluncuran ini menegaskan bahwa pemangkasan latihan militer belum cukup membawa Pyongyang kembali ke meja perundingan.
Komando Pasifik AS mengonfirmasi peluncuran rudal tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung bagi wilayah AS atau sekutunya. AS menegaskan komitmennya untuk tetap mempertahankan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow