Derasnya Arus Plastik Impor Murah Tekan Produsen Dalam Negeri
Penulis : Harso Kurniawan 16 Jul 2026 | 19:53 WIB
Industri plastik hilir menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah tekanan gangguan pasokan bahan baku akibat perang di Timur Tengah (Timteng). (Foto: istimewa)
JAKARTA, Investor.id - Derasnya arus plastik impor berharga murah, terutama dari China, kembali menjadi sorotan. Kondisi tersebut semakin menekan daya saing produsen dalam negeri, sedangkan ekonom mengingatkan ancaman yang lebih luas, mulai dari penurunan produksi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga perlambatan investasi, apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah pengamanan perdagangan.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai tekanan terhadap industri plastik nasional sudah terlihat, terutama di sektor petrokimia hulu maupun hilir. Dampaknya adalah penurunan utilisasi pabrik bahkan berpotensi memicu penutupan operasi.
“Industri petrokimia hulu dan hilir terpukul akibat membanjirnya bahan baku dari negara seperti China, Thailand, dan Korea Selatan," kata Esther, Rabu (15/7/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu keberlangsungan perusahaan, tetapi juga berpotensi menyeret jutaan pekerja yang selama ini bergantung pada industri plastik nasional. Tekanan juga dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang kesulitan bersaing dengan produk luar negeri berharga sangat murah.
"Produk jadi dari luar negeri yang masuk dengan harga sangat murah, bahkan dicurigai ilegal atau dijual di bawah biaya produksi, mematikan pangsa pasar UKM lokal," tambah Esther.
Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai, industri plastik merupakan salah satu sektor yang paling rentan menghadapi lonjakan impor murah dari China. Ada indikasi dumping plastik oleh pemain China yang memengaruhi banyak industri, termasuk industri tekstil dan produk tekstil.
Dia menjelaskan, hasil analisis data perdagangan internasional menunjukkan, produk plastik termasuk kelompok barang yang paling banyak menghadapi dugaan impor ilegal dari China, setelah mesin dan peralatan mekanik, besi baja, serta perabot dan lampu.
Faisal juga melihat tren dugaan impor ilegal tersebut terus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi itu membuat industri nasional semakin sulit bersaing karena produk yang masuk secara ilegal dapat dijual dengan harga jauh lebih murah.
Selain menggerus pangsa pasar industri nasional, praktik tersebut juga dinilai merugikan penerimaan negara. Sebab, produk impor ilegal tidak membayar pajak dan berbagai kewajiban lainnya.
“Ini berpotensi, bahkan mungkin sudah, berdampak terhadap kerugian negara dari sisi penerimaan fiskal atau APBN," ucap dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow