Industri Petrokimia Nasional Hadapi Tekanan Ketergantungan Bahan Baku Impor

Smallest Font
Largest Font

Industri petrokimia nasional masih menghadapi tekanan akibat ketergantungan tinggi pada bahan baku impor, yang membuat industri plastik dalam negeri rentan terhadap gejolak harga global dan persaingan produk impor murah dari China, dilansir dari Investor Daily.

Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai masalah bahan baku merupakan tantangan utama bagi industri plastik nasional dan menyebut bahwa penguatan industri dalam negeri harus didukung kebijakan yang menjaga keberlangsungan usaha lokal.

"Industri plastik kita tergerus produk impor China. Ini memang cukup mempersulit industri, karena ada kebutuhan impor bahan baku," ujar Bambang.

Bambang menambahkan bahwa ketergantungan bahan baku masih sangat tinggi sehingga pemerintah perlu memberikan insentif yang mendorong penggunaan produk dalam negeri, termasuk keuntungan bagi industri yang menggunakan bahan baku plastik lokal.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan pasar masih sulit ditebak akibat perkembangan geopolitik yang mempengaruhi harga komoditas dan logistik.

"Memang posisinya itu masih belum menentu ya, dari sisi harga, karena naik turun, akibat geopolitik masih begini, sehingga harga minyak naik turunnya itu lebih sering. Tetapi untuk beberapa komoditas, yang jadi kendala bukan masalah bahan baku dan harga, tetapi logistik," ujar Fajar.

Kenaikan biaya pengiriman menekan aktivitas perdagangan, sementara pasar domestik masih menunggu perkembangan permintaan sebelum meningkatkan pembelian.

Fajar juga menyoroti pentingnya pemulihan daya beli karena penurunan permintaan berdampak pada tingkat utilisasi pabrik yang sempat turun di bawah 70 persen, menyebabkan kerugian bagi industri.

"Nah operating rate sempat di bawah 70%. Artinya kami sudah rugi," ujar Fajar.

Selain itu, perubahan pola pasokan global membuat industri harus mencari alternatif bahan baku selain dari Timur Tengah yang pasokannya tersendat dan memakan waktu lebih lama.

Fajar menyebut penggunaan LPG sebagai alternatif nafta pada periode tertentu dapat membantu efisiensi biaya produksi, meski sangat bergantung pada harga energi.

Industri petrokimia nasional diperkirakan mulai pulih pada paruh kedua tahun ini, namun masalah logistik, impor, daya beli, dan pasokan bahan baku tetap menjadi tantangan utama.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed