Zelensky Tolak Pemilu Saat Perang karena Risiko Perpecahan Ukraina

Smallest Font
Largest Font

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak rencana menggelar pemilihan umum saat negara masih dalam konflik perang melawan Rusia. Pernyataan ini disampaikan pada 23 Agustus 2026 setelah mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov menyerukan pemilu meski Ukraina dalam keadaan darurat militer.

Ukraina menangguhkan pemilu berdasarkan aturan darurat militer yang didukung luas masyarakat karena fokus menghadapi invasi Rusia sejak 2022. Zelensky menyatakan bahwa pemilu di masa perang berisiko besar dan dapat memecah belah negara.

"Saya yakin bahwa dalam perang seperti ini, pemilihan umum merupakan risiko yang sangat besar. Pemilu saat ini ibarat tsunami bagi negara yang akan memecah belah Ukraina," ujar Zelensky.

Gejolak politik terjadi setelah Zelensky memecat Mykhailo Fedorov, yang sebelumnya mendorong pemilu tanpa peta jalan jelas. Pemecatan ini memicu aksi protes ribuan orang di Kyiv dan kota lain.

Zelensky mengungkapkan konflik serius antara Fedorov dan Panglima Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrskyi terkait pembagian tugas, sehingga keduanya berhenti berkomunikasi langsung.

"Kampanye apa pun yang sedang berlangsung di medan perang, itu terutama urusan militer. Logistik dan dukungan adalah tanggung jawab Kementerian Pertahanan Ukraina. Jika seseorang ikut campur dalam bidang tanggung jawab orang lain, hal itu pasti akan menyebabkan konflik. Dan konflik memang terjadi, konflik yang sangat serius," kata Zelensky.

Setelah konflik tersebut, Zelensky memecat Fedorov pada 15 Juli dan menggantikannya dengan Yevhenii Khmara. Pada 21 Juli, panglima tertinggi Oleksandr Syrskyi juga diganti dengan Mykhailo Drapatyi.

Fedorov dikenal sebagai tokoh yang mengutamakan perang teknologi tinggi, termasuk penggunaan drone dan perang siber, serta pernah bekerja sama dengan Elon Musk untuk membatasi penggunaan satelit Starlink oleh Rusia.

Dalam unggahan setelah pemecatan, Fedorov menyatakan akan terus melawan musuh melalui inovasi dan pendekatan asimetris.

Serangan Ukraina ke wilayah Rusia, termasuk serangan drone masif, menyebabkan korban jiwa dan meningkatkan ketegangan. Zelensky berupaya menjaga persatuan antara masyarakat dan militer.

"Saya percaya bahwa masyarakat dan tentara tidak boleh dipisahkan," ujar Zelensky.

Jajak pendapat menunjukkan hanya 15% warga Ukraina mendukung pemilu sebelum perang berakhir. Zelensky juga mengingatkan agar pendemo tidak bersikap tidak hormat terhadap anggota militer.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed