Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Presiden Prabowo Harus Ciptakan Lapangan Kerja

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Addin Anugrah Siwi 17 Aug 2026 | 21:57 WIB

Presiden Prabowo Subianto berdiri usai menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Fauzan/bay/kye)

JAKARTA, investor.id – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027 yang dipatok Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak cukup hanya dilihat dari pencapaian angka produk domestik bruto (PDB). Ekonom menilai pertumbuhan tersebut harus mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, menjaga daya beli, memperkuat kelas menengah, dan mempersempit kesenjangan.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% sekaligus menurunkan tingkat kemiskinan menjadi 6%-6,5%. Target tersebut lebih rendah dibandingkan tingkat kemiskinan pada Maret 2026 yang masih mencapai 8,07%.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan tantangan pemerintah bukan sekadar mengejar pertumbuhan secara kuantitatif, melainkan memastikan kualitas pertumbuhan tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Itu baru berbicara target quantity, belum kita berbicara quality. Jadi, bukan cuman tercapai atau tidaknya 6% saja, tapi kualitas pertumbuhannya seperti apa. Karena itu justru yang jadi PR-nya paling besar pada saat sekarang,” kata Faisal saat dihubungi, Senin (17/8/2026).

Menurut Faisal, pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus tercermin dalam perbaikan kondisi masyarakat. Salah satu indikator utama adalah kemampuan ekonomi menciptakan lapangan kerja yang memadai sekaligus memberikan pendapatan lebih tinggi bagi pekerja.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan lebih bermakna apabila peningkatan aktivitas ekonomi diikuti bertambahnya kesempatan kerja dan membaiknya pendapatan masyarakat.

Faisal menilai persoalan tersebut semakin penting karena tekanan terhadap kelas menengah masih menjadi perhatian. Selain itu, kesenjangan ekonomi, termasuk antara pemerintah pusat dan daerah, juga masih perlu diperbaiki.

“Dari penciptaan lapangan pekerjaan, kemudian kelas menengah yang terus mengalami penurunan, ketimpangan yang melebar, termasuk ketimpangan pusat dengan daerah, apalagi dengan pemotongan transfer ke daerah (TKD) yang secara signifikan terjadi,” ujar Faisal.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2026 mencapai 4,68%. Sementara itu, pemerintah dalam RAPBN 2027 menargetkan TPT berada pada kisaran 4,30%-4,87%.

Selain pengangguran, pemerataan pendapatan juga menjadi pekerjaan rumah. Gini ratio Indonesia pada Maret 2026 tercatat 0,368, sedangkan pemerintah menargetkan indikator tersebut turun menjadi 0,362-0,367 pada 2027.

Kualitas pertumbuhan juga menghadapi tantangan dari sisi daya beli masyarakat. Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebut inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi menekan konsumsi rumah tangga pada 2027.

“Kondisi ini bisa menekan dari sisi konsumsi rumah tangga yang selama ini menyumbang lebih dari 50% dari pembentukan PDB nasional. Bayang-bayang PHK masal juga masih menjadi faktor pelemahan perekonomian di tahun 2027,” kata Nailul.

Tekanan terhadap konsumsi perlu menjadi perhatian karena belanja rumah tangga merupakan komponen terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia. Ketika pendapatan masyarakat melemah sementara harga kebutuhan meningkat, kemampuan rumah tangga mempertahankan tingkat konsumsi juga berpotensi tertekan.

Melemahnya konsumsi pada akhirnya dapat menjadi tantangan bagi pencapaian target pertumbuhan 6%. Mesin pertumbuhan akan lebih sulit bergerak apabila konsumsi rumah tangga melemah bersamaan dengan tekanan terhadap lapangan kerja dan daya beli.

Sebagai modal awal, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada semester I-2025 yang sebesar 5%. Pemerintah menyebut pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi masyarakat yang masih terjaga, investasi yang tumbuh tinggi, serta peningkatan belanja pemerintah.

Namun, untuk mencapai pertumbuhan 6% sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah perlu memastikan mesin pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas, meningkatkan pendapatan, menjaga inflasi, serta mempersempit ketimpangan.

Dengan demikian, keberhasilan target pertumbuhan 6% pada 2027 tidak hanya ditentukan oleh besarnya pertumbuhan PDB. Kualitas pertumbuhan akan tercermin dari kemampuan ekonomi menciptakan pekerjaan yang lebih baik, menjaga daya beli, menurunkan kemiskinan, dan memastikan manfaat pertumbuhan tersebar lebih merata.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Ekonom: Target Pertumbuhan Ekonomi 6% Butuh Extra Effort

Didik: Indonesia Harus Ubah Haluan dari Inward ke Outward Looking

IFG Progress: Hubungan PDB dan Sektor Riil Melemah Sejak Triwulan II-2025

Prabowo: Pertumbuhan Ekonomi dan Disiplin Fiskal Berjalan Bersama

Prabowo Targetkan Defisit APBN 2027 Sebesar 2,4% PDB

Macroeconomy 2 menit yang lalu Bukan Sekadar Tumbuh 6%, Ini PR Ekonomi Prabowo pada 2027 Ekonom menilai target pertumbuhan 6% perlu dibarengi penurunan pengangguran, kemiskinan, ketimpangan, dan penguatan kelas menengah.

Macroeconomy 33 menit yang lalu Ekonom: Target Pertumbuhan Ekonomi 6% Butuh Extra Effort Target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 dinilai membutuhkan kebijakan ekstra karena ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5%.

International 45 menit yang lalu AS Gelontorkan US$22,9 Miliar untuk Genjot Produksi Rudal Tomahawk Stok senjata yang menipis mendorong AS memberi Raytheon kontrak US$22,9 miliar untuk menggenjot produksi rudal Tomahawk.

National 57 menit yang lalu Solidaritas Bantu Korban Gempa NTT Berbagai pihak menggelar aksi solidaritas untuk membantu warga terdampak gempa NTT. Salah satunya dilakukan Pertamina Patra Niaga.

Business 1 jam yang lalu Delapan Raksasa Minyak Untung Rp 1.600 Triliun dari Perang Iran Delapan perusahaan minyak besar meraup laba gabungan US$ 90 miliar pada kuartal II 2026 setelah harga minyak melonjak akibat perang Iran.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed