Sri Mulyani Ditunjuk Jadi Ketua Bersama IDA Bank Dunia
Bank Dunia resmi menunjuk mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai Ketua Bersama Asosiasi Independen Pembangunan Internasional (IDA) dalam proses pengisian kembali pendanaan IDA22. Penunjukan tersebut memicu pujian sekaligus kritik tajam bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di dalam negeri.
Dalam peran barunya di level internasional, Sri Mulyani dipercaya memimpin upaya perkuatan dukungan kebijakan serta pendanaan bagi program Bank Dunia yang menyasar negara-negara berpenghasilan rendah. Ia juga bertugas menggalang komitmen dari negara donor dan peminjam.
Penetapan posisi tersebut dilakukan melalui mekanisme seleksi ketat oleh komite khusus yang mewakili negara-negara anggota.
"Sri Mulyani terpilih untuk posisi ini dari daftar kandidat yang diseleksi oleh komite pencarian yang terdiri dari perwakilan negara donor dan peminjam," tulis Bank Dunia dalam laman resminya seperti dilansir Warta Ekonomi.
Pencapaian Sri Mulyani di kancah global ini mendapatkan apresiasi dari pegiat media sosial Jhon Sitorus, yang sekaligus melempar kritik keras terhadap kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
"Yang direndahkan di negara sendiri, kini diberi amanah yang jauh lebih besar pada level dunia," tulis Jhon Sitorus dalam akun X.
Jhon menilai berbagai tudingan miring terhadap Sri Mulyani gugur dengan sendirinya seiring adanya kepercayaan internasional tersebut.
"Perlahan-lahan, fitnah yang dituduhkan ke beliau rontok sendirinya," katanya.
Ia lantas membandingkan rekam jejak Sri Mulyani dengan Janji-janji politik Purbaya saat memimpin Kementerian Keuangan.
"Terbukti, Purbaya cuma bisa omon-omon. Dia ditenggelamkan oleh janji manisnya sendiri," lanjutnya.
Pegiat media sosial tersebut juga menyampaikan ucapan selamat atas posisi baru yang diemban Sri Mulyani di ranah lintas negara.
"Selamat bu Sri Mulyani, kelas anda memang bukan mengurusi 1 negara lagi tetapi lintas negara di dunia," pungkas Jhon Sitorus.
Kritik terhadap kepemimpinan Purbaya juga datang dari ekonom senior Ferry Latuhihin. Mantan rekan Purbaya di Danareksa Institute pada tahun 2000 tersebut bahkan mendesak agar Purbaya segera dicopot dari jabatannya.
“Dia tidak paham ekonomi sama sekali,” kata Ferry dalam kanal YouTube miliknya.
Ferry menyoroti kebijakan pemindahan saldo anggaran lebih (SAL) ke bank-bank Himbara di tengah situasi industri perbankan yang mengalami kelebihan likuiditas dengan kredit menganggur mencapai Rp2.735 triliun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow