Satgas Karhutla TNI dan Adat Dayak Sepakat Larang Pembakaran Lahan

Smallest Font
Largest Font

Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan Satgas Karhutla TNI memperkuat langkah mitigasi di Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, melalui kolaborasi dengan tokoh adat Dayak pada Senin, 31 Agustus 2026. Forum yang dipimpin Brigjen TNI M Zamroni tersebut menyepakati penghentian aktivitas pembakaran dalam proses pembukaan lahan mendatang, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Pertemuan yang berlangsung di Nanga Mau ini melibat seluruh jajaran Kepala Adat Dayak, pemerintah kecamatan, para ketua suku, hingga perangkat pemerintah setempat. Kesepakatan bersama ini dicapai menyusul adanya penurunan titik api di kawasan tersebut.

Ketua Kelompok Penyuluh Satgas Karhutla TNI wilayah Kayan Hilir, Kolonel Arh Saptarendra Prasada, memberikan rincian terkait kondisi terkini di lapangan seusai dialog berlangsung.

"Secara tradisional, sebagaimana disampaikan tadi oleh Ketua Dewan Adat Dayak, Pak Subendi, pembukaan lahan telah selesai pada Juli dan sekarang mestinya sudah masuk tahap nugal. Jadi para peladang tentunya sudah tidak buka lahan lagi," ujar Saptarendra.

Penurunan jumlah titik api di Kayan Hilir bertepatan dengan berulangnya siklus pertanian lokal, di mana warga mulai beralih dari fase pembersihan lahan menuju masa penanaman benih atau nugal.

"Jadi untuk kebakaran hutan yang terjadi saat ini, lebih kepada dampak kelalaian oknum masyarakat," tandasnya.

Lembaga adat dinilai memegang peranan krusial dalam struktur sosial masyarakat Kayan Hilir. Menurut Saptarendra, pengaruh adat mencakup berbagai aspek kehidupan warga, mulai dari menjaga tradisi hingga menetapkan regulasi komoditas lokal.

"Peran adat dalam mitigasi bencana di wilayah Kayan Hilir sangat luar biasa, bahkan dalam penetapan harga ecer komiditi juga bisa disepakati oleh adat dan diikuti oleh masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Pak Camat tadi terkait kelangkaan BBM," ujar Saptarendra.

Hasil dari musyawarah tersebut menghasilkan komitmen tegas dari seluruh kelompok peladang untuk menyetop metode pembakaran dalam mengolah lahan.

"Alhamdulillah, dari hasil dialog itu, kata ketua suku menyampaikan bahwa masyarakat, khususnya peladang sepakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar," tandas Saptarendra.

Kesepakatan pencegahan karhutla ini juga mencakup komitmen menjaga kelestarian alam secara menyeluruh. Masyarakat berjanji menghentikan segala jenis aktivitas berisiko memicu kebakaran, termasuk perubahan kebiasaan dalam tradisi menuba.

Kayan Hilir terdiri atas 43 desa yang dihuni oleh enam suku Dayak. Saptarendra menjelaskan bahwa tradisi menuba yang dahulu menggunakan racun alami seperti Portas kini kerap dilakukan oleh generasi muda dengan membakar ikan di area rawan, yang kerap memicu api menyebar ke area hutan.

"Tapi saat ini menuba dilakukan oleh anak anak muda tidak menggunakan racun alami atau Portas, dan selesainya membakar ikan yang terkadang bisa lalai dan akhirnya membakar hutan," terang Saptarendra.

Pihak kelembagaan adat mengambil tindakan tegas untuk menghentikan kebiasaan berisiko tersebut berdasarkan masukan dari pihak kepolisian setempat.

"Ini juga yang dihentikan oleh Dewan Adat Dayak Kayan Hilir, menyikapi yang disampaikan oleh Kapolsek," imbuh dia.

Langkah pencegahan Karhutla di Kayan Hilir diperluas melalui jalur edukasi di sekolah-sekolah serta rencana penyelenggaraan doa bersama lintas agama untuk memohon hujan. Forum koordinasi ini turut dihadiri Danramil, perwakilan Polsek, penyuluh TNI, hingga perwakilan perusahaan sawit dan puskesmas.

"Alhamdulillah, dari forum itu kita bisa memiliki pehamanan yang sama terkait bahaya bencana Karhutla dan memitigasi sesuai fungsi masing-masing. karena Kayan Hilir di musim kemarau rawan bencana Karhutla dan di musim hujan rawan banjir," kata Saptarendra.

Pertemuan lintas sektor ini dimanfaatkan sebagai wadah pemetaan masalah sekaligus perumusan solusi konkret untuk menangani potensi bencana alam di wilayah Kayan Hilir.

"Dialog juga sebagai ajak koordinasi untuk menemukan pokok masalah serta alternatif solusi terkait Mitigasi Bencana," pungkas dia.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed