Rupiah Melemah ke Level Rp 17.744 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berbalik melemah sebesar 22 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp 17.744 pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026), akibat tekanan konflik geopolitik serta rilis data inflasi domestik, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Mata uang Garuda sebelumnya berada di tingkat Rp 17.722 per dolar AS. Pergerakan rupiah diperkirakan masih akan mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melesu pada rentang Rp 17.740 hingga Rp 17.790 per dolar AS untuk perdagangan berikutnya.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tren depresiasi rupiah ini dipicu oleh gabungan faktor eksternal dan internal yang membebani pergerakan mata uang.
Dari ranah global, perhatian pasar tertuju pada dinamika konflik Timur Tengah antara AS dan Iran yang mengganggu stabilitas kawasan. Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz belum berhasil dibuka kembali meski mediator internasional telah berupaya menengahi situasi tersebut.
Upaya para mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk menengahi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang pecah pada akhir Februari sejauh ini belum membuahkan hasil yang berarti. Iran menutup jalur pelayaran tersebut setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada tanggal 28 Februari, kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Selain masalah pasokan energi global, ketidakpastian arah kebijakan moneter di AS turut memperberat langkah rupiah. Sinyal hawkish dari petinggi bank sentral AS memicu spekulasi kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat, yang pada gilirannya mendongkrak imbal hasil obligasi serta menguatkan nilai tukar dolar AS.
Yang memicu kembali ekspektasi bahwa bank sentral AS dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September, serta mendorong lonjakan tajam pada nilai tukar Dolar AS (USD) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek, beber Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Data CME FedWatch Tool mengindikasikan bahwa probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September melonjak hingga 66 persen, naik signifikan dari posisi 38 persen sebelum pernyataan resmi dikeluarkan.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah muncul setelah Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen pada Agustus 2026, berbalik dari kondisi deflasi 0,14 persen pada Juli 2026.
Kendati demikian, kinerja perdagangan nasional masih menunjukkan performa positif dengan capaian surplus neraca perdagangan sebesar US$ 120 juta pada Juli 2026, membaik dibandingkan kondisi defisit US$ 450 juta pada Juni 2026. Nilai ekspor Indonesia pada periode yang sama mencapai US$ 26,22 miliar atau tumbuh 6,05 persen secara tahunan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow