Rupiah Melemah ke Rp17.723 Per Dolar AS Efek Sanksi Iran
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,01 persen atau 2 poin ke posisi Rp17.723 per dolar AS pada perdagangan luar negeri, Selasa (25/8/2026). Depresiasi mata uang garuda terdorong oleh pengumuman sanksi ekonomi baru dari Amerika Serikat terhadap Iran.
Sehari sebelumnya, Senin (24/8/2026), pasar spot mencatat rupiah melemah 0,15 persen ke level Rp17.721 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jisdor menguat tipis 0,01 persen menuju posisi Rp17.703 per dolar AS.
Pelemahan rupiah di pasar spot sejalan dengan tren mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang terdepresiasi 0,14 persen, ringgit Malaysia turun 0,09 persen, dan dolar Singapura melemah 0,08 persen. Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 0,32 persen.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah yang menekan sentimen global setelah kebijakan baru Washington dirilis.
"AS ingin memutus jalur kehidupan ekonomi Iran guna memaksa berakhirnya konflik," kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi.
Pemerintah AS juga mengancam bakal mengeluarkan negara-negara yang menolak memutuskan hubungan bisnis dengan Iran dari sistem keuangan berbasis dolar. Di saat bersamaan, Menkeu AS Scott Bessent mengindikasikan rencana peningkatkan pembelian kembali obligasi US Treasury untuk meredam tingginya biaya pinjaman.
Tekanan terhadap mata uang domestik juga dipicu oleh faktor internal. Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 melebar hingga 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari PDB, membengkak dari kuartal sebelumnya sebesar 3,6 miliar dolar AS.
Pelebaran defisit tersebut dipengaruhi oleh lonjakan impor minyak di tengah kenaikan harga energi global. Kendati demikian, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dinilai tetap terjaga dengan mencetak defisit 900 juta dolar AS, jauh membaik ketimbang kuartal I 2026 yang defisit 9,1 miliar dolar AS.
"Walaupun transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan tetap terjaga," ujar Ibrahim.
Kondisi eksternal Indonesia ditopang cadangan devisa akhir Juni 2026 senilai 145,6 miliar dolar AS, yang setara pembiayaan 5,6 bulan impor. Pelaku pasar saat ini mencermiti penilaian Fitch Ratings yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen pada 2027.
"Target pertumbuhan ekonomi 6 persen tahun depan dinilai lebih realistis daripada target 8 persen untuk jangka panjang," ujar Ibrahim.
Ibrahim memaparkan risiko geopolitik dan kenaikan harga minyak global masih menjadi tantangan utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Fitch menyebutkan ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan serta potensi kembali meningkatnya harga minyak dunia. Perlambatan tajam ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan," kata Ibrahim.
Prospek pergerakan nilai tukar turut mendapat perhatian dari kalangan perbankan swasta nasional. Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai rupiah berpeluang mendekati level Rp17.500 per dolar AS jika aliran modal asing ke SBN terus mengalir lancar.
"Rupiah mencapai Rp17.500-an dalam waktu dekat menurut saya cukup realistis. Jaraknya dari Rp17.600-an relatif kecil dan secara fundamental masih terdapat ruang penguatan," kata Chief Economist Bank Permata Josua Pardede.
Penguatan menuju level tersebut membutuhkan stabilitas harga minyak dan kepercayaan pasar bahwa Bank Indonesia mampu mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen.
"Kami memperkirakan, level Rp17.500-Rp17.550 dapat diuji dalam beberapa pekan ke depan, terutama apabila aliran dana asing ke SBN semakin besar dan tidak hanya bertumpu pada SRBI," terang Josua.
Namun, Josua mengingatkan bahwa angka tersebut belum menjadi titik keseimbangan baru mengingat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
"Jika harga minyak kembali meningkat atau pasar kembali memperkirakan kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif, rupiah dapat dengan cepat kembali ke Rp17.700-Rp17.900," jelas Josua.
Josua menambahkan perlunya perbaikan mendasar pada neraca transaksi berjalan untuk menjaga posisi mata uang garuda secara berkelanjutan.
"Jadi penguatan menuju Rp17.500 cukup mungkin, tetapi kemampuan bertahan di bawah Rp17.500 membutuhkan perbaikan yang lebih kuat pada transaksi berjalan dan pasokan devisa domestik," ujarnya.
Sementara itu, pandangan lebih konservatif disampaikan oleh proyeksi perbankan nasional lainnya mengenai arah pergerakan mata uang hingga akhir tahun.
"Sementara itu, pergerakan finansial asset juga masih cenderung dinamis," ujar Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual.
David memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS pada akhir 2026, berpatokan pada potensi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve akibat tekanan inflasi AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow