Rupiah Diprediksi Melemah terhadap Dolar AS Pekan Depan
Nilai tukar rupiah diprediksi kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan depan di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi, dilansir dari Investor Daily.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), rupiah ditutup melemah 34 poin ke level Rp 17.897 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.923 per dolar AS. Untuk perdagangan Senin depan, rupiah diperkirakan berfluktuasi dan melemah di kisaran Rp 17.890 hingga Rp 17.940 per dolar AS.
Untuk rentang sepekan ke depan, rupiah diprediksi bergerak antara Rp 17.780 hingga Rp 18.020 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sentimen eksternal menjadi faktor utama tekanan rupiah, terutama ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
"Kembali meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran terkait potensi kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya membuat pasar mengantisipasi tekanan inflasi untuk mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga," ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, peristiwa yang terjadi dalam pekan ini mengindikasikan bahwa ketegangan antara Iran dan AS belum mereda.
Dia menambahkan bahwa pembuat kebijakan di bank sentral AS tidak bisa membiarkan inflasi tinggi berkepanjangan dengan harapan pertumbuhan produktivitas dapat meredakan tekanan harga.
Dari sisi domestik, rupiah tetap mengalami tekanan meskipun cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 terjaga di angka US$ 145,3 miliar, hampir sama dengan posisi akhir Juni 2026 sebesar US$ 145,6 miliar.
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik," kata Ibrahim.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow