Rupiah Menguat ke Rp17694 per Dolar AS pada 21 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat 54 poin atau 0,30 persen ke level Rp17.694 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh penahanan BI-Rate serta dorongan solidnya pertumbuhan kredit domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan rupiah di pasar spot ini menguat 0,75 persen dalam sepekan. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia turut menguat 0,42 persen secara harian menuju posisi Rp17.705 per dolar AS.

Penguatan rupiah di pasar keuangan dalam negeri mendapatkan sentimen positif setelah Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen.

"Kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi," kata Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa.

Amru menambahkan bahwa dari sentimen global, pergerakan mata uang masih dipengaruhi oleh arah dolar AS serta tekanan dari imbal hasil US Treasury. Tekanan terhadap mata uang Paman Sam tersebut dipicu oleh langkah pemerintah AS meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang.

"Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah suku bunga, sehingga prospek kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian pasar," ungkap Amru.

Dari sudut pandang pengamat pasar uang, laju rupiah juga disokong oleh kinerja fungsi intermediasi perbankan nasional yang tetap mencatatkan angka positif.

"Kredit perbankan di Indonesia pada Juli 2026 tumbuh solid sebesar 13,58 persen secara tahunan (year-on-year), meningkat dari 12,67 persen pada Juni 2026," kata pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi.

Ibrahim menjelaskan penopang kinerja tersebut adalah insentif likuiditas dengan rasio kecukupan modal (CAR) perbankan di level 23,70 persen serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga rendah di kisaran 2,09 persen bruto.

Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat defisit neraca transaksi berjalan (CAD) kuartal II-2026 membengkak menjadi US$12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap PDB akibat kenaikan impor minyak dan penurunan surplus nonmigas. Pasar juga terus mencermati risiko inflasi pangan akibat fenomena El Niño yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed