RT 08 Malaka Jaya Bangun Lingkungan Hijau Berbasis Digitalisasi
Kawasan RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, bertransformasi menjadi permukiman hijau berbasis teknologi hingga menarik perhatian delegasi dari sepuluh negara untuk melakukan studi banding, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Rabu (12/8/2026).
Wilayah padat penduduk tersebut kini dilengkapi dengan ekosistem biopori, budidaya ikan lele dan gurame di saluran air, pengolahan sampah organik, serta sistem keamanan modern berbasis pengawas kamera terintegrasi.
Ketua RT 08 Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, menjelaskan bahwa penataan kawasan ini memerlukan investasi dana yang cukup besar, termasuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menelan biaya awal puluhan juta rupiah.
"Ini siskamling modern kami," kata Taufiq Supriadi, Ketua RT 08 RW 04 Malaka Jaya.
Guna memenuhi kebutuhan dana proyek dan rencana pembangunan kawasan Eco EduFarm di lahan sekitar, pengurus mengajukan proposal bantuan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Untuk area A ini bersihnya Rp 2,1 miliar dan yang area E Rp 2,2 miliar. Pak RT jadi Robin Hood, saya sih sudah bayar DP," terang Taufiq Supriadi.
Meski belum menerima bantuan dana langsung dari pemerintah daerah, pihak pemerintah telah memberikan dukungan berupa program pelatihan tenaga kerja budidaya perikanan bagi warga setempat.
Pengurus RT juga menerapkan sistem transparansi keuangan dan keamanan wilayah melalui aplikasi RTOnline yang dapat diakses oleh seluruh warga secara langsung.
"Di sini, warga bisa melihat transparan laporan keuangan kita, warganya ada berapa. Kemudian kita bantu validasi data bansos," kata Taufiq Supriadi.
Sistem pengawasan digital di lingkungan tersebut terkoneksi dengan belasan titik kamera pengawas yang terhubung langsung ke ponsel warga dan pengeras suara area.
"Kita ada CCTV di 16 titik, ada juga di handphone para warga bisa pantau. Ada speaker toa. Jadi kalau ada orang berbaju hitam mencurigakan, saya hidupin mikrofon, "Ting-tong-ting-tong, Bapak yang berbaju hitam, tolong bergeser dari posisi Anda sekarang", bapaknya pergi. Pernah kejadian," katanya.
Taufiq yang memiliki latar belakang pendidikan magister Teknik Geodesi Geomatika dari ITB serta gelar doktor mengaplikasikan keilmuannya untuk merancang sumur resapan dan biopori sebagai solusi banjir.
"Jadi ilmu geodesi saya, saya coba diaplikasikan di lingkungan. Ternyata sumur resapan dalam dan biopori itu efektif mengembalikan air ke dalam Bumi," aku Taufiq Supriadi.
Penerapan teknologi ramah lingkungan tersebut terbukti meningkatkan kualitas air tanah serta efisiensi penggunaan pompa air warga sekitar.
"Testimoni warga sebelah ini, usianya 84 tahun. Testimoni beliau begini, "Pak RT air kamar mandi kami menjadi lebih bening,". Yang kedua mengatakan mesinnya sudah tidak pernah ngerong-rong lagi, padahal mesinnya masih pakai mesin yang lama," lanjut Taufiq Supriadi.
Ia optimistis gerakan penataan lingkungan mandiri berbasis RT dapat membawa perubahan besar bagi Indonesia jika diterapkan secara serentak di berbagai wilayah.
"Kemudian, bayangkan 30.511 RT se-DKI, 2,7 juta RT se-Indonesia. Kalau bergerak bersama, Indonesia tidak akan lagi sendiri," ujar Taufiq Supriadi.
Inisiatif penguatan tata kelola dari tingkat terkecil ini dinilai menjadi pondasi utama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan perkotaan.
"Jadi Indonesia ini hanya butuh sistem dari atap. Masalahnya bukan di pusat, di kita. Kalau rumah kita atapnya bagus, dindingnya kokoh, tapi fondasinya rapuh?
Bangunan nggak akan kuat lama. Nah, fondasi itu adalah kita, RT," tandas Taufiq Supriadi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow