Prospek Harga CPO Diproyeksikan Bullish Meski Sempat Melemah

Smallest Font
Largest Font

Tren penurunan tipis mewarnai penutupan perdagangan kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives pada Jumat (7/8/2026). Kendati mengalami koreksi, pergerakan komoditas ini diperkirakan bakal berbalik menguat pada pekan mendatang.

Kondisi penurunan harga dipengaruhi oleh pergeseran peta permintaan global, seperti dikutip dari Investor Daily. Langkah China yang memperbesar volume pembelian kedelai asal Amerika Serikat menjadi salah satu pendorong dinamika tersebut.

Faktor lain yang menekan pergerakan harga adalah data persediaan bahan baku. Hasil survei Reuters mengindikasikan tingkat stok minyak sawit pada bulan Juli lalu telah menyentuh angka tertinggi sepanjang lima bulan terakhir.

Research and Development ICDX Girta Yoga menjelaskan bahwa pergerakan harga komoditas ini sempat berada di tren melemah. Titik batas atas harga berada pada 4.750 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan batas bawah bertahan di 4.600 Ringgit Malaysia per ton.

Secara akumulatif, performa harga sepanjang pekan ini masih mencatatkan kenaikan sekitar 1,23 persen. Jika dihitung sejak awal tahun, pertumbuhan harganya bahkan telah menorehkan angka 15,70 persen.

Memasuki pekan depan, potensi penguatan diprediksi mulai terbuka. Rentang batas atas harga diproyeksikan bergerak antara 4.650 hingga 4.775 Ringgit Malaysia per ton, sementara batas bawah berada di kisaran 4.500 sampai 4.600 Ringgit Malaysia per ton.

"Untuk level resistance berada di kisaran harga 4.650-4.775 Ringgit Malaysia per ton, dan level support di kisaran harga 4.600-4.500 Ringgit Malaysia per ton," kata Yoga.

Sejumlah indikator utama akan menjadi fokus perhatian para pelaku pasar. Laporan bulanan Dewan Minyak Sawit Malaysia, angka ekspor, serta perkembangan regulasi mandatori biodiesel di Indonesia dan Malaysia masuk dalam daftar pemantauan.

Perkembangan pasar minyak kedelai serta tingkat permintaan dari negara importir seperti India, China, dan Uni Eropa turut memegang peranan penting. Pada paruh kedua tahun 2026, pergerakan harga diperkirakan lebih solid di kisaran 4.400 hingga 4.800 Ringgit Malaysia per ton.

Peluang kenaikan harga pada semester kedua didorong oleh fenomena iklim El Nino. Selain itu, maraknya serangkaian perayaan festival budaya di India yang berlangsung dari Agustus hingga November mendatang diperkirakan mendongkrak konsumsi minyak sawit secara signifikan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed