Harga CPO Bursa Malaysia Melonjak Akibat Minyak Mentah dan El Nino

Smallest Font
Largest Font

Lonjakan harga minyak mentah dunia dan meningkatnya risiko El Nino memicu kenaikan tajam harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Dilansir dari Investor Daily, penguatan ini berlanjut setelah pasar beroperasi kembali usai libur nasional Malaysia pada Senin (31/8/2026).

Risiko cuaca ekstrem El Nino yang berpotensi membawa kekeringan di kawasan Asia Tenggara mengancam volume produksi kelapa sawit. Pasar komoditas mulai mengantisipasi kemungkinan pengetatan pasokan minyak sawit pada masa mendatang, sehingga memicu tren kenaikan harga.

Di bursa BMD, kenaikan terjadi pada seluruh kontrak pengiriman. Kontrak September 2026 mengalami kenaikan 21 Ringgit Malaysia menjadi 4.649 ringgit Malaysia per ton. Lonjakan lebih tinggi dicapai oleh kontrak Oktober 2026 yang menguat 65 ringgit Malaysia hingga menyentuh 4.853 ringgit Malaysia per ton.

Kenaikan berlanjut pada kontrak November 2026 yang melonjak 79 ringgit Malaysia menjadi 4.973 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Desember 2026 melesat 84 ringgit Malaysia dan ditutup pada posisi 5.072 ringgit Malaysia per ton.

Untuk kontrak tahun berikutnya, pengiriman Januari 2027 mencatatkan kenaikan 82 ringgit Malaysia menjadi 5.149 ringgit Malaysia per ton. Hasil serupa dialami kontrak Februari 2027 yang menguat 82 ringgit Malaysia hingga mencapai level 5.203 ringgit Malaysia per ton.

Data Tradingview menunjukkan tren positif ini mengantarkan harga CPO menyentuh posisi tertinggi dalam kurun sepekan. Pergerakan harga CPO juga mendapat dukungan tambahan dari penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian serta bursa Chicago.

Faktor nilai tukar turut memengaruhi pasar komoditas ini. Pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia membuat daya tawar CPO menjadi lebih terjangkau bagi pembeli internasional yang menggunakan mata uang lain.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran melerek kenaikan harga minyak mentah dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melebihi 4% pada Selasa setelah aksi serangan udara baru. Kenaikan harga minyak bumi memperkuat daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku energi alternatif.

Meski menunjukkan tren naik, laju penguatan CPO masih tertahan oleh tingginya stok persediaan minyak sawit Malaysia yang menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir pada Juli. Selain itu, proyeksi penurunan volume ekspor minyak sawit Malaysia periode 1-25 Agustus 2026 sebesar 11,4% hingga 20% menandakan pemulihan permintaan global belum sepenuhnya solid.

Tekanan tambahan berasal dari pasar India, di mana para penyuling cenderung mengalihkan pembelian ke minyak kedelai yang menawarkan harga lebih murah, meskipun ekspektasi impor minyak nabati India pada Agustus diperkirakan tetap memberi penopang bagi CPO.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed