Prof Jatna Tegaskan Konservasi Alam Berbasis Sains Dorong Nilai Ekonomi
Pendekatan konservasi alam kini tidak lagi sekadar kegiatan proteksi hutan yang menyerap anggaran besar. Dilansir dari Investor Daily, pengelolaan lingkungan yang ditopang ilmu pengetahuan justru sanggup menciptakan nilai ekonomi nyata bagi warga.
Penegasan tersebut disampaikan oleh ahli biologi konservasi Prof Jatna Suprianatna PhD dalam acara bedah tiga buku bertema 'Masyarakat sebagai Penjaga Alam: Konservasi, Pariwisata, dan Masa Depan Indonesia' di Jakarta.
"Semua itu ada science-nya, termasuk ketika melakukan konservasi alam itu harus berdasarkan science, berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga konservasi tidak lagi hanya dipandang sebagai kegiatan yang membutuhkan biaya untuk melindungi kawasan hutan dan satwa, tetapi kegiatan konservasi justru dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat," kata Prof Jatna Suprianatna PhD.
Penerapan ilmu pengetahuan bersifat krusial untuk mencegah dampak buruk eksploitasi lahan. Bidang biologi konservasi memadukan pelbagai disiplin ilmu, mulai dari antropologi hingga ekonomi, guna menjaga kelangsungan hidup masyarakat.
"Kalau kita melakukan sesuatu tanpa dasar ilmu pengetahuan yang kuat, dampaknya bisa menjadi bencana. Hutan bisa menjadi gundul, sementara pertanian yang seharusnya menghasilkan keuntungan justru bisa menimbulkan kerugian. Semua itu bisa terjadi karena tidak didukung oleh science yang memadai," ungkap Prof Jatna.
Pemahaman konservasi di dalam negeri kerap dianggap terlalu tradisional lantaran cenderung memisahkan keberadaan manusia dari area proteksi. Konsep modern justru memandang manusia dan ekosistem sebagai satu kesatuan sosial-ekologis yang bertumbuh bersama.
"Tidak mungkin sebuah taman nasional dikelola dengan prinsip bahwa manusia sama sekali tidak boleh melakukan apa-apa di dalamnya. Pendekatan seperti itu justru dapat membuat masyarakat menjauhi, bahkan memusuhi, kawasan konservasi," kata Prof Jatna.
Ia mencontohkan transformasi tata kelola taman nasional di Amerika Serikat yang mulanya dijaga ketat oleh militer, kini beralih menjadi kawasan ekowisata yang memberi manfaat finansial bagi warga lokal.
"Kalau keberadaan kawasan konservasi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat, kawasan tersebut berpotensi justru dimusuhi. Karena itu, konservasi pada akhirnya bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga tentang bagaimana mengelola interaksi antara manusia dan alam secara berkelanjutan," ujar dia.
Pola Pengelolaan Berbasis Komunitas
Indonesia memiliki puluhan taman nasional yang sebagian besar masih bergantung pada tata kelola pemerintah. Pola manajemen ini dinilai perlu bertransformasi melibat publik, sektor swasta, dan LSM.
"Manajemen kawasan konservasi ke depan harus berbasis komunitas. Masyarakat harus ikut mengelola, sektor swasta dapat terlibat, dan LSM juga ikut berperan. Jadi, kawasan konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah," tegas Prof Jatna.
Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas belasan ribu pulau serta deretan gunung api aktif menjadi modal unik. Pengelolaan yang tepat dapat menjadikan kekayaan hayati ini sebagai sumber kekuatan ekonomi baru di luar sektor tambang.
Dukungan teknologi modern saat ini juga memperbesar peluang restorasi area yang terlanjur rusak. Pemanfaatan teknologi secara bijak diyakini mampu memulihkan fungsi ekosistem yang sempat terganggu.
"Hutan yang rusak masih dapat dipulihkan, selama kerusakannya tidak terus-menerus dilakukan," kata dia.
Prof Jatna meyakini potensi sumber daya alam Indonesia sangat besar untuk dikelola secara berkelanjutan demi kemakmuran bersama.
"Karena itu, kita tidak boleh melihat Indonesia hanya dari sisi kerusakannya. Kita memiliki kekayaan yang luar biasa dan sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengelolanya," tegas dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow