Prancis Gagaskan Proyek Laut Buatan di Gurun Sahara untuk Ubah Iklim

Smallest Font
Largest Font

Jauh sebelum teknologi geoengineering modern dikenal, Prancis pernah merencanakan proyek ambisius untuk mengubah sebagian Gurun Sahara menjadi laut buatan. Tujuan utama proyek ini bukan hanya membuka jalur pelayaran baru, tetapi juga mengubah iklim gurun agar menjadi lebih lembap dan subur guna mendukung pertanian.

Gagasan tersebut muncul di akhir abad ke-19, ketika sejumlah insinyur dan penjelajah percaya bahwa Sahara dapat direvitalisasi dengan mengalirkan air laut ke cekungan yang terletak di bawah permukaan laut. Harapan mereka, keberadaan laut baru dapat meningkatkan kelembapan dan curah hujan, sehingga lingkungan sekitar menjadi lebih hijau.

Salah satu penggagas utama adalah François Élie Roudaire, seorang perwira Angkatan Darat Prancis, yang pada 1870-an mengusulkan pembangunan kanal dari Teluk Gabès di pesisir Mediterania menuju cekungan Chott el Fejej di Tunisia selatan. Bersama dengan Ferdinand de Lesseps, pengembang Terusan Suez, mereka merencanakan agar air laut mengisi cekungan tersebut hingga membentuk laut pedalaman.

Para pendukung proyek yakin bahwa laut buatan ini tidak hanya akan mengubah pola cuaca di Afrika Utara, tetapi juga meningkatkan produktivitas lahan sekitarnya. Selain aspek lingkungan, proyek ini juga diharapkan dapat membuka jalur perdagangan dan pelayaran baru untuk menggerakkan ekonomi regional.

Perkiraan biaya pembangunan saat itu mencapai sekitar USD 30 juta, menjadikannya salah satu proyek rekayasa terbesar pada abad ke-19. Namun, ide ini sebenarnya sudah pernah diajukan sebelumnya oleh insinyur Inggris Donald Mackenzie pada 1877. Mackenzie mengusulkan proyek lebih besar dengan mengalirkan air Atlantik ke Cekungan El Djouf di Mauritania dan Mali, termasuk menghubungkannya dengan Sungai Niger melalui kanal tambahan.

Seiring survei lapangan yang semakin rinci, skeptisisme mulai muncul. Para ilmuwan mempertanyakan efektivitas laut buatan dalam meningkatkan curah hujan. Ada kekhawatiran bahwa area yang tergenang justru bisa menjadi rawa, tempat berkembang biak serangga penyakit.

Menurut laporan Times of India, pemerintah Prancis mengadakan survei lanjutan di Tunisia dan menemukan bahwa sebagian area cekungan tidak sepenuhnya berada di bawah permukaan laut, sehingga pembangunan kanal lebih rumit dan mahal dari perkiraan awal. Akhirnya, tanpa jaminan manfaat yang jelas, pendanaan proyek dihentikan.

Gagasan Laut Sahara sempat muncul kembali sekitar 1910 melalui usulan profesor Etchegoyen yang menginginkan kanal lebih besar dan dalam untuk tujuan serupa. Namun, pemerintah Prancis kembali memilih untuk tidak melanjutkan proyek tersebut.

Meski tidak pernah terealisasi, konsep Laut Sahara menjadi salah satu contoh paling terkenal dalam sejarah rekayasa lingkungan berskala besar. Ide ini bahkan menginspirasi berbagai rencana ambisius pada abad ke-20, termasuk program Operation Plowshare di Amerika Serikat yang mempertimbangkan ledakan nuklir untuk membantu mengalirkan air ke cekungan gurun.

Proyek ini menunjukkan bahwa jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi perhatian global, manusia sudah mengusulkan cara ekstrem untuk mengubah bentang alam dan iklim bumi, seperti yang dikutip dari Detik iNET.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed