Air bah dari runtuhan gletser menerjang Nepal dan Tibet
Air bah menerjang Nepal dan Tibet setelah sebagian gletser dan lereng gunung di perbatasan Nepal-Tibet runtuh dari puncak Langtang Lirung setinggi 7.000 meter, menewaskan ratusan orang. Massa es, batu, dan puing menghantam Sungai Lhende Khola lalu membesar sebelum menerjang hilir di beberapa distrik Nepal.
Dilansir dari Detik iNET, Jeffrey Kargel dari Planetary Science Institute menghitung aliran material menempuh 22 kilometer pertama dengan kecepatan rata-rata 193 km/jam, mencapai dasar lembah kurang dari tujuh menit. Permukaan sungai di lembah terdampak naik hingga sembilan meter dalam setengah jam.
Dilansir dari Detik iNET, massa yang terbentuk dari reruntuhan tersebut menghantam Sungai Lhende Khola di bawahnya, kemudian terus membesar sebelum menerjang distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading di Nepal.
Dilansir dari Detik iNET, di puncak Langtang Lirung, sebagian lereng gunung ambrol dan menyeret sebagian gletser bersamanya. Setelah itu, massa es, batu, dan puing menghantam sungai di bawah serta mengalir deras ke hilir.
Dilansir dari Detik iNET, banjir sebelumnya juga melanda kawasan yang sama pada Juli 2025, menewaskan sembilan orang setelah hujan deras menyebabkan Sungai Lhende dan Bhote Koshi meluap.
Reaksi Ilmuwan
Penelitian Bethan Davies, profesor glasiologi Newcastle University, menunjukkan wilayah di atas 4.000 meter di tangkapan air Langtang menghangat sekitar lima kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global sejak 1960-an.
Kita tahu pemanasan iklim membuat gletser di Himalaya jadi tidak stabil. Ketika stabilitas gletser terganggu, keruntuhan mendadak dapat terjadi dan memicu tragedi seperti ini,
Dilansir dari Detik iNET, Davies menyoroti mencairnya permafrost yang biasanya tetap membeku sepanjang tahun, sehingga mengurangi kekokohan lereng curam seperti di atas Langtang Lirung. Perubahan pada lapisan tanah tersebut dinilai memperbesar ketidakstabilan.
Permafrost ibarat 'lem' perekat batu-batuan,
Dilansir dari Detik iNET, Ella Gilbert dari British Antarctic Survey menyebut laju hilangnya es dari gletser di Himalaya berlipat ganda sejak tahun 2000. IPCC juga menyatakan menyusutnya gletser, salju, dan permafrost membuat kawasan pegunungan dunia makin tak stabil.
Kemungkinan besar ada kombinasi berbagai faktor berperan dan kita tahu bahwa semuanya diperparah perubahan iklim,
Ketidakadilan Iklim
Dilansir dari Detik iNET, Savio Carvalho dari 350.org menilai bencana ini menyoroti keadilan iklim. Nepal menghasilkan kurang dari 0,1 persen emisi gas rumah kaca, namun termasuk paling rentan terhadap bencana terkait perubahan iklim.
Mereka yang paling sedikit berkontribusi justru membayar harga termahal, terutama dengan nyawa,
Dilansir dari Detik iNET, Carvalho mencontohkan sistem peringatan dini di Pegunungan Alpen lebih maju dibanding Nepal dan mengatakan dana bantuan internasional sering terlambat serta lebih banyak berupa pinjaman yang menambah beban utang negara miskin.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow