Fenomena Super Niño Picu Peningkatan Curah Hujan Ekstrem di Argentina

Smallest Font
Largest Font

Fenomena iklim Super Niño telah aktif dan diperkirakan akan memengaruhi curah hujan serta suhu di berbagai wilayah Argentina dalam beberapa minggu ke depan, khususnya pada puncaknya di akhir tahun 2026.

Menurut analisis terbaru dari Bolsa de Comercio de Rosario, curah hujan di kawasan inti pertanian Argentina diperkirakan meningkat hingga 90% di atas rata-rata historis antara Oktober hingga Desember 2026. Kondisi ini dapat mengganggu jadwal tanam dan panen, terutama untuk tanaman seperti kedelai, gandum, dan jagung.

Pemerintah Kota Buenos Aires telah menyiapkan rencana tanggap darurat untuk menghadapi potensi badai dan banjir yang terjadi akibat Super Niño. Rencana tersebut melibatkan pemantauan 177 titik rawan banjir, termasuk jalan bawah tanah, jembatan, dan instalasi pompa air, dengan penempatan tim di 83 titik tetap dan 94 titik dinamis di seluruh kota.

Rencana ini dikelola oleh Direktorat Pertahanan Sipil melalui Pusat Operasi Darurat, dengan koordinasi dari 10 instansi pemerintah seperti Pemadam Kebakaran, Polisi, dan Dinas Hidraulik.

Ahli iklim Ane Alencar dari IPAM memperingatkan bahwa dampak Super Niño yang lebih hebat dari biasanya akan memperpanjang musim kemarau di Amazon, yang biasanya terjadi antara Juni dan Oktober, hingga akhir tahun atau awal tahun berikutnya.

"Tergantung pada intensitas fenomena, tidak hanya akan ada masalah kebakaran, tetapi juga pada tanaman," ujar Ane Alencar. Ia menambahkan bahwa petani harus mengelola penggunaan api dengan hati-hati agar tidak memperburuk kebakaran lahan.

Dalam konteks pertanian Argentina, Alfredo Elorriaga, konsultan meteorologi dari Bolsa de Comercio de Rosario, menyatakan bahwa suhu permukaan laut Pasifik meningkat dari 1,25 menjadi 1,8 derajat Celsius, dengan potensi kenaikan hingga 3 derajat, menandai kekuatan fenomena yang mirip dengan peristiwa 2015/2016.

"Peningkatan curah hujan yang tajam diperkirakan terjadi pada musim semi, dengan kenaikan sekitar 30% pada Oktober, 70% pada November, dan 90% pada Desember," kata Elorriaga.

Ia menjelaskan bahwa meskipun curah hujan yang tinggi ini dapat membantu pemulihan kelembaban tanah setelah tiga musim kemarau, intensitasnya akan menyebabkan kesulitan logistik untuk pelaksanaan tanam dan panen karena kondisi lahan yang becek dan terbatasnya hari kerja yang kondusif.

Para ahli menyarankan agar petani mengantisipasi kondisi ini dengan menyesuaikan jadwal tanam, terutama untuk jagung yang berisiko tinggi mengalami kerusakan akibat genangan air pada puncak fenomena Super Niño.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed