Pezeshkian menyatakan Iran dalam perang skala penuh

Smallest Font
Largest Font

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya kini berada dalam "perang skala penuh" setelah Amerika Serikat meluncurkan gelombang sanksi baru yang bertujuan mengisolasi perekonomian Iran. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah pada Minggu, 23/8/2026, dan dilaporkan AFP.

Pezeshkian menyatakan warga Iran menghadapi banyak masalah dan pemerintah berupaya mencegah dampaknya semaksimal mungkin. Ia menyebut upaya untuk menahan inflasi serta menangani persoalan penghidupan dan pengangguran.

"Saya memahami bahwa kita memiliki banyak masalah di masyarakat saat ini. Kami berupaya mencegah hal-hal tersebut semaksimal mungkin," ujar Pezeshkian.

Pernyataan presiden Iran itu muncul setelah Washington bertekad meruntuhkan rezim Iran lewat kampanye sanksi baru.

"Dia mengatakan sedang menjatuhkan sanksi yang paling menghancurkan dan mengerikan terhadap Iran," kata Pezeshkian.

Selain tantangan ekonomi, konflik juga menyasar dimensi militer dan keamanan dalam narasi pejabat Iran.

"Kita sedang berada dalam perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan," kata Pezeshkian.

Dalam pidato yang dikutip media Iran, IRNA dan Anadolu Agency, Pezeshkian menegaskan Teheran berusaha memenuhi kebutuhan rakyat di tengah tekanan dan sanksi dari AS, serta menggambarkan situasi sebagai "perang yang tidak seimbang".

Iran juga memperingatkan negara lain agar tidak ikut serta dalam "perang ekonomi" Amerika Serikat terhadap republik Islam. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezai menyatakan negara yang berpartisipasi dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap Iran akan dianggap sebagai musuh.

"Kami menyatakan kepada semua negara... jangan bergabung dalam perang ekonomi yang dikobarkan oleh Amerika Serikat," ujar Mohsen Rezai.

Rezai menambahkan bahwa jika negara lain menolak menjauh dari AS, Iran akan "merugikan" kepentingan mereka, dan menyebut Iran masih memiliki langkah lain dalam perang.

"Negara mana pun yang berpartisipasi dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami akan dianggap sebagai musuh," tambahnya, Mohsen Rezai.

Dalam eskalasi yang memperluas dampak ke jalur energi, Iran menyatakan kesiapan menghentikan seluruh lalu lintas tanker minyak di Selat Hormuz jika perang ekonomi berlanjut. Ancaman itu disampaikan sebagai respons terhadap sanksi dan tekanan finansial AS.

"Jika perang ekonomi terus berlanjut, tidak akan ada setetes minyak pun yang diekspor, baik melalui Selat Hormuz atau dari mana pun di Teluk Persia. Iran akan menganggap partisipasi atau dukungan negara manapun terhadap perang ekonomi Amerika terhadap rakyat Iran sebagai tindakan perang," ujar Mohsen Rezaei.

Iran juga mengancam akan menyerang perusahaan minyak AS di sekitar Iran jika sanksi ekonomi dijatuhkan. Sementara itu, pada akhir Desember tahun sebelumnya, protes massal di Iran yang dipicu kesulitan ekonomi berkembang menjadi demonstrasi besar, dengan pihak berwenang melaporkan lebih dari 3.000 kematian selama kerusuhan tersebut.

Pihak berwenang menuduh Amerika Serikat dan Israel mendalangi kekerasan, sedangkan sejumlah LSM berbasis luar negeri menyebut aparat melakukan tindakan keras tanpa pandang bulu yang mengakibatkan ribuan orang tewas.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed