Pemukim Israel Kepung Rumah Warga Palestina di Qusra
Sekitar 15 warga Palestina termasuk anak-anak terjebak di dalam tiga rumah yang dikepung pemukim Israel di kota Qusra, Tepi Barat, hingga menyebabkan krisis bahan pangan sejak pekan lalu. Pengepungan tersebut diperparah oleh tindakan tentara Israel yang memblokir akses pengiriman bantuan makanan dari pemerintah daerah maupun lembaga internasional ke lokasi pemukiman tersebut. Aisha Hassan, seorang warga berusia 35 tahun yang terisolasi bersama ibu dan saudaranya, mengeluhkan kondisi kelaparan yang mulai dialami pihak keluarga akibat blokade yang terus berlangsung.
"Kami kelaparan," kata Aisha Hassan, warga Palestina yang mengeklaim keluarganya terjebak di dalam rumah.
Bantuan pangan yang sempat dikirimkan oleh UNICEF sempat tertahan selama 24 jam di luar area rumah sebelum akhirnya diizinkan diambil, sehingga sebagian pasokan pasokan tersebut membusuk. "Staf Unicef dapat mengirimkan sebagian makanan kepada kami beberapa hari lalu, dan sekarang makanan itu mulai membusuk," kata Aisha Hassan, warga yang rumahnya dikepung pemukim Israel.
Wali Kota Qusra, Abdul-Azim Wadi, mengonfirmasi pihaknya terus berkordinasi dengan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) untuk menyalurkan logistik, namun pihak militer Israel berulang kali menolak izin melintas. "Kami, sebagai pemerintah kota, masih berusaha berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantarkan makanan kepada keluarga-keluarga tersebut, tetapi kami menghadapi pembatasan ketat dan dilarang mencapai rumah-rumah itu," kata Abdul-Azim Wadi, Wali Kota Qusra.
Selain blokade bahan pokok, fasilitas umum seperti aliran listrik dan air ke pemukiman tersebut diputus oleh kelompok pemukim, sementara area Qusra telah ditetapkan sebagai zona militer tertutup oleh tentara Israel. Ruqaya Hassan, warga yang terpaksa mengungsi ke rumah kerabatnya bersama dua anaknya yang masih balita, menyatakan situasi ketakutan terus melanda anak-anaknya selama pengepungan berlangsung. "Tentu saja, saya menduga bahwa tentara dan pemukim bekerja sama," kata Ruqaya Hassan, ibu dari dua anak yang terjebak di Qusra.
Kondisi darurat ini memicu gelombang protes dari berbagai organisasi internasional, termasuk UNI Global Union yang mengutuk tindakan kekerasan serta pengusiran paksa terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
"Gerakan serikat buruh global tidak bisa berdiam diri menghadapi kekerasan yang terus meningkat ini. Ini telah merugikan salah satu anggota kami, dan karenanya telah menyentuh kami semua. Kami berharap Imad Tmaiza sembuh total, tetapi kami tahu bahwa sampai ada kebebasan dari pendudukan dan perlindungan sejati atas hak-hak warga Palestina, dia, keluarganya, dan komunitasnya akan hidup di bawah ancaman serangan lain," kata Christy Hoffman, Sekretaris Jenderal UNI Global Union.
Seruan internasional terus didorong guna menghentikan pendudukan ilegal, sementara pihak militer Israel belum memberikan akses penuh bagi penyaluran bantuan kemanusiaan ke rumah-rumah yang terisolasi. "Pemerintah Israel harus segera bertindak untuk menghentikan kekerasan yang meningkat ini. Dan di seluruh dunia, kita yang peduli terhadap perdamaian dan keadilan harus menambahkan suara kita pada tuntutan untuk perlindungan segera bagi warga sipil, pekerja, dan aktivis serikat buruh Palestina," kata Christy Hoffman, Sekretaris Jenderal UNI Global Union.
Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi di kota Idhna di mana pemukim Israel menyerang rumah warga dan masjid hingga melukai aktivis serikat buruh Imad Tmaiza.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow