Pemerintah Targetkan Defisit APBN 2027 Tetap di Bawah Tiga Persen
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di Jakarta, Jumat (14/8/2026), dilansir dari Investor Daily.
Komitmen fiskal tersebut dipertahankan meskipun rencana belanja negara pada 2027 diproyeksikan membengkak hingga mencapai Rp 4.097,2 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 3,9 persen apabila dibandingkan dengan proyeksi APBN 2026.
Guna menopang postur anggaran tersebut, pemerintah mengandalkan optimalisasi penerimaan sektor perpajakan seiring pemulihan ekonomi nasional serta penataan aktivitas ilegal agar masuk ke dalam sektor formal.
"Nah, ini sekarang kita lihat pajak dengan keadaan sekarang kan sudah tumbuh segitu kan (21% yoy per Juli). Bisa diperkirakan 2,4% (untuk defisit APBN 2027). Kan penerimaan pajak kelihatannya sih akan membaik dibanding sebelumnya. Kalau sama dengan sekarang saja, bisa lebih bagus daripada yang direncanakan itu," kata Purbaya.
Peningkatan kineja penerimaan pajak tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak rasio perpajakan nasional pada tahun anggaran 2027 melebihi target awal yang telah disusun oleh pemerintah.
"Tax ratio-nya mungkin akan naik bukan 9% kayak tadi, mungkin lebih," ujar Purbaya.
Berdasarkan dokumen Struktur RAPBN 2027, target penerimaan perpajakan dirancang sebesar Rp 2.908,0 triliun atau naik 10,5 persen dibandingkan outlook 2026 yang sebesar Rp 2.631,4 triliun, sehingga rasio pajak diperkirakan meningkat hingga 10,4 persen.
Pemerintah juga membidik pendapatan tambahan dari legalisasi komoditas yang sebelumnya beredar secara ilegal di pasar domestik.
"Jadi dan tadi kalau rokok masuk ke apa yang ilegal masuk ke legal, ada tambahan lagi sedikit nanti," kata Purbaya.
Laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari estimasi awal diprediksi akan memperluas basis pemajakan secara signifikan.
"Dan nanti kalau pertumbuhan ekonomi lebih cepat juga kita akan dapatin pajak lebih banyak lagi. Jadi kita akan kerjakan itu," ujar Purbaya.
Kendati mengandalkan peningkatan penerimaan negara, Kementerian Keuangan terus memantau posisi kas anggaran secara berkala dan menyiapkan langkah mitigasi belanja apabila diperlukan.
"Tapi kalau ada apa-apa, kita selalu monitor kondisi APBN kita dari bulan ke bulan. Kalau kita perlu efisiensi, kita efisiensi. Kalau keadaan memaksa, tapi rasanya enggak," kata Purbaya.
Seluruh skenario pengelolaan anggaran ini ditujukan untuk mematuhi koridor batas maksimal defisit sesuai arahan pimpinan negara.
"Kita akan jaga terus defisit di bawah 3% sesuai dengan perintah Bapak Presiden," tegas Purbaya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna di Gedung DPR menetapkan target defisit APBN 2027 sebesar Rp 671,2 triliun atau 2,4 persen terhadap PDB, menuruni angka defisit 2026 sebesar Rp 689,1 triliun (2,68 persen PDB). Angka ini bersumber dari pendapatan negara sebesar Rp 3.426 triliun dan belanja negara Rp 4.097,2 triliun.
"Kami memahami bahwa defisit yang ideal adalah sekecil-kecilnya. Bahkan cita-cita kita adalah anggaran yang berimbang. Angka defisit ini turun dari APBN 2026 yaitu Rp 689,1 triliun atau 2,68% dari PDB," ujar Prabowo.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen dengan inflasi 2,5 persen dan kurs rupiah Rp 17.500 per dolar AS melalui reformasi fiskal yang holistik.
"Angka-angka tersebut akan kita jaga dengan reformasi fiskal yang holistik dan konsisten. Pendapatan negara kita dorong lebih optimal, kebocoran penerimaan harus diminimalisasi. Efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan," terang Prabowo.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow