Ekonom Imbau Efektivitas Anggaran APBN 2027 Capai Target Ekonomi

Smallest Font
Largest Font

Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dinilai perlu difokuskan pada efektivitas belanja ketimbang memangkas nilainya demi mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, sebagaimana dilaporkan oleh Investor Daily pada Selasa (18/8/2026).

Ekonom Senior CORE Indonesia Hendri Saparini menyatakan bahwa pemerintah harus memastikan seluruh alokasi anggaran belanja negara memberikan dampak multiplier effect yang optimal bagi perekonomian nasional.

Ia menekankan bahwa pelaksanaan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat terus berjalan melalui perbaikan mekanisme penyaluran dan sumber pendanaan.

"Jadi, menurut saya silakan dikerjakan, tapi koreksinya tidak hanya mengurangi anggaran, tidak hanya mengurangi jumlah, tetapi juga melakukan koreksi terhadap sumber pendanaan," ujar Hendri Saparini, Ekonom Senior CORE Indonesia.

Hendri menilai program MBG memiliki landasan politik yang kuat sebagai bagian dari janji Presiden Prabowo Subianto, sehingga pendekatannya perlu dibuat lebih inklusif.

"Program yang memang menjadi prioritas dan itu memiliki privilege bagi Presiden, maka yang harus dilakukan adalah di dalam implementasinya menggunakan pendekatan yang lebih inklusif," katanya Hendri Saparini, Ekonom Senior CORE Indonesia.

Berdasarkan data RAPBN 2026, anggaran MBG dipatok sementara sebesar Rp240 triliun dari alokasi anggaran pendidikan sebelum pemisahan penuh oleh Mahkamah Konstitusi pada 2028.

Hendri mendorong alokasi besar tersebut dimanfaatkan untuk membuka aktivitas ekonomi baru di sektor pertanian, industri pembekalan, hingga wirausaha lokal.

"Apakah itu menciptakan entrepreneur, ataukah membangun pertanian, ataukah membangun industri, tapi itu yang related, yang terkait dengan bagaimana memberikan market yang offtaker-nya itu adalah MBG," ujarnya Hendri Saparini, Ekonom Senior CORE Indonesia.

Target pertumbuhan 6 persen dipandang penuh tantangan mengingat capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2026 sebesar 5,45 persen di tengah dinamika eksternal.

"Dalam kondisi global yang seperti ini, dan yang paling penting adalah kondisi dalam negeri yang kita mengalami beberapa permasalahan yang perlu di-fixing, perlu dilakukan koreksi," tuturnya Hendri Saparini, Ekonom Senior CORE Indonesia.

Ia menambahkan bahwa pasar domestik memegang peran dominan hingga 75 persen dalam menopang perekonomian nasional.

"Karena sebenarnya ekonomi Indonesia ini termasuk ekonomi tradisional, 75% ekonomi itu akan di-drive oleh ekonomi dalam negeri. Bagaimana akan memanfaatkan domestic market ini untuk menuju kepada 6%?" kata Hendri Saparini, Ekonom Senior CORE Indonesia.

Sementara itu, Peneliti CSIS Yose Rizal Damuri menyoroti pentingnya ketepatan alokasi APBN sebagai instrumen pendorong ekonomi saat kondisi global kurang kondusif.

"APBN bisa menjadi salah satu alat untuk mendorong perekonomian Indonesia. Tetapi bagaimana caranya harus dilakukan dengan alokasi yang tepat," ujar Yose Rizal Damuri, Peneliti CSIS.

Yose mempertanyakan sejauh mana dampak program besar terhadap efisiensi anggaran secara keseluruhan.

"Pertanyaannya adalah apakah alokasi untuk MBG dan alokasi untuk program-program yang lain itu sudah tepat atau belum?" katanya Yose Rizal Damuri, Peneliti CSIS.

Ia mengingatkan agar skala pelaksanaan program disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat sasaran.

"Memang ada, tetapi sampai seberapa besar? Apakah seluruh anak-anak Indonesia memang sehingga harus mengeluarkan ratusan triliun, sehingga harus mengalokasikan begitu besar untuk menangani permasalahan ini?" ujarnya Yose Rizal Damuri, Peneliti CSIS.

Mengutip data SUSENAS, Yose menyebut proporsi rumah tangga yang mengalami kendala pemenuhan pangan mencatatkan angka relatif kecil di bawah 10 persen.

"Kalau menurut data SUSENAS misalnya, ya, keluarga ataupun juga individu yang pernah mengalami permasalahan dengan makanan mereka itu kecil sekali sifatnya. Tidak mencapai 10%, bahkan dengan berbagai ukuran-ukuran yang sifatnya fleksibel," kata Yose Rizal Damuri, Peneliti CSIS.

Ia menyarankan skema penyaluran bantuan dilakukan secara targeted guna menjaga ruang fiskal bagi pembiayaan program penting lainnya.

"Jadi tidak perlu seluruhnya dijalankan dengan skala yang besar. Itu lebih baik secara targeted, secara targeted dengan skema-skema yang juga lebih baik," katanya Yose Rizal Damuri, Peneliti CSIS.

Misalokasi anggaran berpotensi mempersempit kapasitas APBN dalam mendanai kebutuhan pembangunan prioritas lain.

"Jadi masalahnya itu adalah misalokasinya itu, karena kondisi pada saat ini itu memerlukan alokasi yang lebih tepat," pungkas Yose Rizal Damuri, Peneliti CSIS.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed