PBNU Pastikan Tim Tanggap Bencana Aktif di NTT dan Kalimantan Jelang Muktamar
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memastikan tim tanggap bencana tetap aktif di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan meski bersamaan dengan persiapan Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Jombang.
Ketua Umum PBNU Gus Yahya menyatakan bahwa meskipun agenda Muktamar padat, penanganan bencana tetap menjadi prioritas dengan personel yang sudah diterjunkan ke lapangan, khususnya di NTT dan Kalimantan.
"Ini memang musibah bagi kita semua dan kita harus melakukan sesuatu sebagai keseluruhan bangsa untuk ikut menghadapi bencana-bencana itu bersama-sama," ujar Gus Yahya di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Ahad (23/8/2026) malam.
PBNU telah menginstruksikan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU untuk segera bertindak. "Untuk NTT misalnya, mereka sudah mengirim tim dan ada tim yang ada di sana," tambahnya.
Gus Yahya juga menjelaskan bahwa koordinasi intensif dilakukan dengan Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) di Kalimantan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
"Kami sudah melakukan komunikasi di sana walaupun memang keadaannya menjadi tidak mudah karena semua orang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Muktamar," katanya.
Meski begitu, Gus Yahya meminta agar pengurus NU di daerah tetap menunjuk perwakilan yang siaga membantu proses penanganan bencana. "PWNU dan PCNU di sana kemungkinan hari Rabu (26/8/2026) harus sudah berangkat ke Jombang, tapi saya sudah minta untuk menunjuk petugas," ujarnya.
Selain LPBI, elemen lain seperti LAZISNU dan Lembaga Kesehatan NU (LKNU) di daerah diarahkan untuk menyelaraskan koordinasi dengan tim pusat, termasuk lembaga dan badan otonom NU lain yang dapat dikerahkan untuk penanggulangan bencana.
Gus Yahya mengakui penanganan bencana belum maksimal karena SDM terbagi dengan persiapan Muktamar. "Saya juga mohon maaf kepada masyarakat mungkin tidak maksimal yang bisa dilakukan NU dalam hal ini karena persis bersamaan dengan hajat besar yang sedang kita laksanakan sehingga SDM tidak bisa difokuskan untuk penanganan musibah," ujarnya.
Tim NU Peduli Gempa Flores yang melibatkan berbagai lembaga dan badan otonom NU telah mendistribusikan logistik kepada warga terdampak gempa magnitudo 7,7 di tujuh kabupaten NTT, melalui 20 titik posko.
Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Berton SP Panjaitan, jumlah korban meninggal akibat gempa di NTT mencapai 91 orang per Ahad (23/8/2026), dengan rincian terbanyak di Manggarai dan Manggarai Timur.
| Kabupaten/Kota | Korban Meninggal |
|---|---|
| Manggarai | 32 jiwa |
| Manggarai Timur | 31 jiwa |
| Sikka | 6 jiwa |
| Ende | 2 jiwa |
| Manggarai Barat | 1 jiwa |
| Nagekeo | 14 jiwa |
| Ngada | 5 jiwa |
Berton merinci korban meninggal terdiri atas 40 laki-laki dan 48 perempuan, dengan tiga korban masih dalam proses identifikasi gender. Dari segi usia, korban terdiri atas lansia, balita, anak, remaja, dan dewasa. Korban luka-luka tercatat sebanyak 1.286 orang.
"Lima puluh satu persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya 49 persen meninggal disebabkan dampak tidak langsung," jelas Berton.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow