HMAS Stirling Australia Berpotensi Jadi Sasaran Serangan Nuklir China

Smallest Font
Largest Font

Pangkalan Angkatan Laut HMAS Stirling di Australia Barat terancam menjadi target serangan rudal nuklir China setelah dijadikan markas rotasi kapal selam bertenaga nuklir Amerika Serikat dan Inggris mulai 2027.

Melalui program Submarine Rotation Force West (SRF-West), pangkalan yang terletak di lepas pantai Perth tersebut bakal menampung satu kapal selam Inggris dan hingga empat kapal selam AS hingga 2032.

Ancaman serangan militer meningkat karena penempatan alutsista sekutu diperkirakan berlanjut melampaui batas waktu program awal.

Mantan Senator federal Australia Selatan sekaligus mantan awak kapal selam Angkatan Laut Australia, Rex Patrick, menilai HMAS Stirling berpotensi menjadi sasaran utama rudal balistik antarbenua (ICBM) China yang kini mampu menjangkau wilayah Australia jika perang meletus.

"Daripada menembakkan senjata nuklir ke Amerika Serikat pada saat konflik, yang dapat memicu aksi saling serang, menembakkan senjata nuklir ke negara ketiga seperti Australia berpotensi tidak menyebabkan pertukaran serangan tersebut, tetapi dapat menjadi sinyal kepada Amerika Serikat agar mundur," kata Patrick kepada news.com.au pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Serangan tersebut diperkirakan berpotensi menewaskan puluhan ribu orang secara langsung serta menyebabkan ratusan ribu warga lainnya meninggal akibat pajanan radiasi.

"Saya sebenarnya telah melakukan sejumlah penyelidikan mengenai bagaimana Australia melanjutkan operasi dalam kondisi ekstrem seperti serangan nuklir, termasuk kesinambungan pemerintahan. Mereka relatif tertutup mengenai hal itu, tetapi kita telah melihat respons terhadap berbagai peristiwa seperti kebakaran hutan di seluruh Australia timur, ketika Australia saja sudah kesulitan. Padahal, kebakaran hutan di Australia jauh lebih kecil dampaknya dibandingkan sesuatu seperti serangan nuklir," ujar Patrick.

Ia pun meminta pihak berwenang memberikan transparansi penuh mengenai aktivitas pertahanan di kawasan tersebut.

"Pemerintah Australia perlu melibatkan rakyat Australia. Daripada membuat warga dan jurnalis harus mencari-cari informasi sendiri, pemerintah memiliki kewajiban untuk menjelaskan secara tepat apa yang sedang terjadi. Sayangnya, mereka belum melakukan itu," kata Patrick.

Sementara itu, pakar dari Pacific Centre for Island Security (PCIS), Leland Bettis, mengungkapkan bahwa Militer AS mengalihkan anggaran pemeliharaan pangkalan dari Guam ke HMAS Stirling.

"Pendanaan seharusnya dilakukan pada tahun fiskal 2026. Namun, ketika kita melihat anggarannya, Departemen Pertahanan AS tampaknya mengajukan proposal yang diperkecil, dan tidak satu pun dari dana tersebut disetujui. Hampir USD1 miliar atau AUD1,41 miliar dalam pendanaan yang diusulkan tidak disahkan dalam anggaran fiskal AS 2026. Nol," kata Bettis.

HMAS Stirling dinilai ideal karena berada di luar jangkauan langsung pertempuran China-Taiwan serta didukung pembangunan Naval Support Activity dan dok apung untuk kapal selam kelas Virginia mulai awal 2030-an.

"Naval Support Activity pada dasarnya adalah instalasi Angkatan Laut AS yang berbasis di darat. Tugas utamanya adalah mengelola pangkalan dan menyediakan logistik, keamanan, administrasi, serta berbagai layanan lainnya sehingga awak yang sedang berada di laut dapat fokus pada misi mereka... Itu pada dasarnya berarti menjalankan operasi sebuah pangkalan," papar Bettis.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed