Paguyuban UI Soroti Jam Kerja Dosen Lebih dari Delapan Jam

Smallest Font
Largest Font

Paguyuban Pekerja Universitas Indonesia menyoroti durasi jam kerja dosen yang sering kali melebihi delapan jam sehari, seperti dilaporkan Detikcom pada Selasa (18/8/2026). Beban tersebut mencakup persiapan bahan ajar, pemberian nilai, serta pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Sebetulnya dosen itu melakukan beberapa fungsi yang membutuhkan waktu kerja yang panjang," ujar Ketua Paguyuban Pekerja UI Irwansyah.

Persiapan mengajar dilakukan sebelum masuk kelas, sementara proses pemeriksaan ujian berlangsung setelah kelas selesai. Dosen juga memikul kewajiban lain dalam bentuk penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

"Itu kan waktu kerjanya bahkan lebih dari 8 jam sehari," ungkap Irwansyah.

Meskipun menanggung durasi kerja yang sangat panjang, apresiasi finansial yang diterima tenaga pengajar dinilai masih belum sepadan dengan beban tugas harian mereka.

"Dia bahkan tidak lebih besar dari upah minimum pekerja kebanyakan, yang mungkin proses kerjanya nggak sepanjang dosen, itu kan satu hal yang membuat miris sebetulnya. Karena artinya waktu yang digunakan itu banyak yang nggak dihitung," ujar Irwansyah.

Tinggi-rendahnya pendapatan dosen berisiko menurunkan efektivitas pengajaran di tengah melonjaknya kuota mahasiswa serta bertambahnya beban administratif formal.

"Padahal semakin lama, makin banyak dosen mahasiswa yang ditambahkan. Dia mungkin akan punya dampak. Kalau upahnya dia nggak layak, kemampuannya dia untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada murid yang semakin bertambah itu mungkin berkurang. Belum lagi ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya administratif," tutur Irwansyah.

Dalam ranah akademis, penyiapan riset independen sering kali tidak dibarengi dengan fasilitas dana bantuan atau hibah penelitian dari pihak lembaga.

"Kalau riset-riset mandiri, nggak dapat," ujar Irwansyah.

Peluang perolehan pendanaan riset di sektor sains dan teknologi terhitung lebih terbuka ketimbang kajian dalam lingkup ilmu sosial maupun humaniora.

"Misalnya fakultas-fakultas bahasa gitu ya, mungkin, atau sosial, jelas lebih sedikit peluang," kata Irwansyah.

Pengumpulan angka kredit dan publikasi jurnal internasional untuk mengejar gelar guru besar memerlukan pendanaan penuh dari kantong pribadi tenaga pendidik.

"Itu semua keluar biaya yang seringkali nggak ditanggung, memang tidak ditanggung oleh universitas," tutur Irwansyah.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed