Nilai Transaksi Kripto Indonesia Anjlok 28 Persen pada Juli 2026
Nilai transaksi aset kripto di Indonesia tercatat sebesar Rp 20,52 triliun pada Juli 2026, mengalami penurunan sebesar 28,2 persen dibandingkan Juni 2026 yang mencapai Rp 28,58 triliun, seperti dilansir dari Investor Daily. Meski begitu, jumlah konsumen aset keuangan digital secara nasional tetap bertambah hingga menyentuh angka 22,93 juta akun.
Di tengah penurunan secara nasional, platform INDODAX mencatatkan volume transaksi sebesar Rp 7,5 triliun pada Juli 2026. Angka tersebut menyumbang sekitar 36,5 persen dari total nilai transaksi kripto nasional pada periode tersebut. Volume transaksi platform ini kemudian melonjak 16 persen pada Agustus 2026 menjadi Rp 8,7 triliun.
Penguatan pasar kripto global pada periode Agustus turut mendorong kenaikan sejumlah aset digital utama berdasarkan data CoinMarketCap. Bitcoin menguat sekitar 24,36 persen dalam sebulan, Ethereum naik 32,01 persen, XRP melambung 28,22 persen, Solana melonjak 41,33 persen, dan Hyperliquid (HYPE) memimpin dengan kenaikan 61,53 persen.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menilai peningkatan volume transaksi pada Agustus menandakan gairah aktivitas pemodal yang mulai pulih.
"Peningkatan volume transaksi di Agustus menunjukkan aktivitas pasar mulai kembali menguat. Momentum Bitcoin ikut mendorong perhatian investor, sementara bertambahnya jumlah investor menunjukkan bahwa minat terhadap aset kripto masih terjaga. Namun, keputusan transaksi tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar, volatilitas, dan strategi masing-masing investor," kata Aloysia Dian, Chief Marketing Officer INDODAX.
Pergerakan aset kripto utama dinilai menjadi katalis penting bagi pasar secara keseluruhan, meski tingkat risiko tiap aset tetap berbeda.
"Bitcoin masih memiliki peran besar dalam membentuk sentimen dan aktivitas pasar. Ketika aktivitas Bitcoin meningkat, perhatian terhadap aset kripto lainnya juga dapat ikut menguat. Namun, setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer INDODAX.
Kondisi ekonomi makro serta likuiditas global disebut masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset digital ke depan.
"Membaiknya sentimen global ikut mendorong aktivitas pasar, tetapi kondisi tersebut tetap dapat berubah seiring perkembangan kebijakan makroekonomi global dan likuiditas. Karena itu, peningkatan transaksi perlu disikapi secara terukur, dengan tetap melakukan riset, dan menghindari keputusan yang hanya didorong pergerakan harga jangka pendek," kata Aloysia Dian, Chief Marketing Officer INDODAX.
Sebagai upaya mitigasi risiko investasi, platform INDODAX menyediakan fasilitas pembelajaran INDODAX Academy untuk mengedukasi masyarakat mengenai teknologi blockchain dan manajemen risiko.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow