Militer AS Gempur Iran 11 Malam Berturut-turut

Smallest Font
Largest Font

Komando Pusat Amerika Serikat melancarkan serangan udara malam ke-11 berturut-turut ke berbagai lokasi militer di Iran pada Selasa malam guna memperlemah kemampuan negara tersebut dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Pernyataan resmi CENTCOM menyebutkan bahwa operasi militer Amerika Serikat menyasar pusat operasi militer Iran, fasilitas maritim, hanggar pesawat, tempat penyimpanan drone, serta infrastruktur logistik militer.

Gelombang serangan ini meluas hingga ke wilayah utara dan barat daya Iran. Lembaga manajemen krisis lokal melaporkan serangan misil AS menghantam zona militer di luar kota Tabriz pada Rabu sekitar pukul 02.40 waktu setempat, sementara ledakan juga terdengar di Bushehr, Sirik, Behbahan, dan Omidiyeh.

Sistem pertahanan udara di bagian timur Teheran sempat diaktifkan usai ledakan besar terdengar di sekitar ibu kota. Meski demikian, pejabat setempat mengonfirmasi belum ada serangan yang menghantam langsung wilayah dalam kota Teheran maupun Tabriz.

Sebagai bentuk balasan atas agresi tersebut, militer Iran menggempur sejumlah fasilitas militer yang terhubung dengan Amerika Serikat di Kuwait, Yordania, dan Bahrain menggunakan pesawat nirawak dan rudal.

"Sebagai tanggapan atas agresi berulang dari musuh jahat terhadap bagian dari negara kami, tentara Republik Islam Iran ... menargetkan 'depo amunisi' dan 'peralatan logistik pusat komando pasukan darat' dari tentara AS yang kriminal di garnisun Doha di Kuwait barat dengan sejumlah besar drone penghancurnya," kata militer Iran dalam sebuah pernyataan.

Angkatan bersenjata Iran menegaskan bahwa jangkauan serangan balasan mereka juga mencakup pangkalan udara penting milik Amerika Serikat di kawasan Teluk.

"[Drone] juga menargetkan 'bangunan perumahan dan kesejahteraan' serta 'gudang peralatan' dari tentara teroris AS di pangkalan Azraq di Yordania pada pagi hari," kata sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Mehr.

Pernyataan tersebut menambahkan rincian mengenai target militer AS lainnya yang berada di wilayah Bahrain.

"[Drone] juga menargetkan 'gudang dan bangsal peralatan besar' serta 'bangsal perawatan dan perbaikan pesawat berat' dari tentara AS yang membunuh anak-anak dan kriminal di pangkalan udara Sheikh Isa di Bahrain," kata pernyataan itu.

Militer Yordania mengonfirmasi telah mencegat empat rudal Iran setelah sirene bahaya berbunyi di kota pelabuhan Aqaba. Di sisi lain, Pentagon mengonfirmasi tambahan satu prajurit AS tewas dalam serangan di Yordania pada Jumat lalu, sehingga total tentara AS yang tewas sejak perang dimulai mencapai 18 orang.

Di ranah politik dan diplomasi, ketegangan semakin meningkat seiring besarnya biaya operasi militer dan ancaman perluasan konflik.

"Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah di mana sebuah negara bangsa dapat memutuskan bahwa mereka akan mengendalikan jalur air internasional, memungut biaya tol, dan jika Anda tidak membayar mereka, meledakkan kapal Anda. Kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya," kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan kepada Kongres AS bahwa biaya perang dengan Iran telah menembus 37,5 miliar dolar AS, dan mengusulkan tambahan dana sebesar 90 miliar dolar AS. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana untuk menyerang situs nuklir Iran yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe dalam waktu dekat.

Menanggapi ancaman Trump, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran memperingatkan akan memperluas serangan di kawasan jika fasilitas nuklirnya diserang. Di tengah eskalasi yang memanas, upaya diplomasi mulai digalang oleh mediator regional, termasuk pembicaraan antara pejabat Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi untuk meredakan ketegangan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed