Stok Rudal AS Terancam Menipis Akibat Serangan Iran di Yordania
Serangan rudal balistik Iran yang menembus pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania dan menewaskan dua prajurit memicu kekhawatiran atas daya tahan persediaan amunisi presisi Pentagon. Kejadian ini dinilai memperbesar beban logistik Washington dalam melindungi sekitar 50 ribu personelnya di Timur Tengah.
Meskipun sebelumnya dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat bombardir pertahanan AS, Iran terbukti masih mampu meluncurkan rudal dan drone yang melumpuhkan sistem pertahanan lawan. Kompleks tempat tinggal militer AS di Yordania menjadi target yang mengakibatkan dua tentara tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Sebelum konflik terbaru meluas, Center for Strategic and International Studies memperkirakan AS telah menggunakan lebih dari 3.000 rudal Tomahawk, Patriot, dan JASSM, serta ratusan sistem canggih seperti THAAD. CSIS memproyeksikan inventaris pertahanan tersebut baru dapat pulih ke tingkat normal menjelang akhir dekade ini.
Kondisi keterbatasan persediaan ini memicu kekhawatiran para analis mengenai kemampuan tempur AS dalam menghadapi konflik berkepanjangan maupun potensi skenario perang simultan di wilayah lain.
Katherine Thompson, peneliti senior bidang pertahanan dan kebijakan luar negeri di Cato Institute, memberikan penilaian terkait ketahanan persediaan amunisi militer AS.
"Jika konflik hanya berlangsung beberapa pekan sebelum tercapai gencatan senjata, mungkin masih bisa ditangani. Namun saya tidak yakin kondisi stok amunisi kami cukup baik apabila perang berlangsung satu hingga dua tahun," kata Katherine Thompson, peneliti senior bidang pertahanan dan kebijakan luar negeri di Cato Institute.
Di sisi lain, temuan hulu ledak rudal jelajah BGM-109 Tomahawk milik AS yang gagal meledak di dekat Varamin, tenggara Teheran, menjadi bukti tambahan mengenai intensitas konfrontasi militer yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow