Mendag Proyeksikan Neraca Perdagangan Juli 2026 Membaik

Smallest Font
Largest Font

Kinerja neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan membaik pada awal semester II-2026, khususnya periode Juli, seiring menguatnya ekspor nonmigas dan stabilitas harga energi global, dilansir dari Investor Daily pada Senin (17/8/2026). Kenaikan harga minyak dunia pada Maret hingga April menjadi pemicu utama timbulnya defisit neraca perdagangan Indonesia dalam beberapa bulan terakhir akibat membengkaknya tagihan impor sektor migas. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan penjelasannya mengenai pemicu defisit perdagangan yang dialami Indonesia pada periode sebelumnya.

"Kemarin faktor defisitnya bulan Mei-Juni itu kan karena pas bulan Maret-April itu harga minyak dunia lagi tinggi-tingginya, sehingga tentu defisit migas kita menjadi lebih besar. Ketika defisit migas kita semakin besar sehingga mengalahkan yang surplus (nonmigas) tadi," kata Budi Santoso, Menteri Perdagangan.

Pemerintah menilai peluang pemulihan neraca perdagangan makin terbuka lebar seiring dengan potensi meredanya ketegangan geopolitik global yang diharapkan sanggup menekan harga minyak. "Jadi, kami optimis ya apalagi nanti kalau kondisinya (geopolitik) semakin membaik, artinya kondisi perang semakin berkurang, harga minyak turun," ujar Budi Santoso.

Pertumbuhan positif ekspor nonmigas yang konsisten dinilai menjadi modal kuat untuk menopang neraca perdagangan secara keseluruhan. "Nah, ini mudah-mudahan harga mulai stabil sementara ekspor nonmigasnya yang terus bagus," tambah Budi Santoso.

Data Badan Pusat Statistik menyoroti defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 450 juta pada Juni 2026 akibat defisit migas sebesar US$ 3,49 miliar, meskipun komoditas nonmigas mencatatkan surplus US$ 3,04 miliar. Total nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 berada di angka US$ 25,46 miliar atau naik 8,84 persen dibandingkan Juni 2025, sedangkan nilai impor naik 34,27 persen menjadi US$ 25,9 miliar. Secara kumulatif dari Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$ 3,58 miliar yang ditopang surplus komoditas nonmigas senilai US$ 19,35 miliar.

Pemerintah menargetkan tren surplus ekspor dapat menghapus defisit perdagangan pada bulan-bulan berikutnya.

"Bulan Juli ini harapan kami defisitnya menjadi tidak ada, karena kalau kita lihat nonmigasnya kan selalu surplus. Nonmigas dan pertumbuhannya kan selalu naik. Pertumbuhan ekspor kita Januari-Juni kan juga naik," kata Budi Santoso. Pemerintah berharap kombinasi ekspor nonmigas yang solid dan stabilitas harga minyak dapat memperkecil tekanan sektor migas pada neraca perdagangan Juli 2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed