DSI Integrasi Data Ekspor Pasca Neraca Perdagangan Defisit
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI memperkuat integrasi data transaksi ekspor nasional guna membantu pemerintah mengidentifikasi potensi nilai komoditas yang belum optimal, menyusul defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei dan Juni 2026, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Rabu (2/9/2026). Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026 yang mengakhiri surplus 72 bulan berturut-turut, diikuti defisit US$ 450 juta pada Juni 2026. Ekonom Universitas Gadjah Mada Eddy Junarsin menilai penguatan visibilitas perdagangan sangat strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global dan penurunan kinerja neraca perdagangan nasional.
"Pada kuartal yang baru dirilis, neraca perdagangan kita bahkan sudah tidak surplus lagi. Artinya, perlu ada refleksi dan koreksi mengenai strategi ekspor di tengah kondisi ketidakpastian global," ujar Eddy Junarsin, Ekonom Universitas Gadjah Mada.
Eddy menambahkan bahwa integrasi data ekspor mencakup pencatatan nilai, volume, kualitas komoditas, harga, klasifikasi produk, lokasi pengiriman, negara tujuan, hingga penerimaan devisa. "Visibilitas yang tinggi merupakan hal yang relevan dan pivotal karena dapat memperkuat transparansi, objektivitas, dan kepastian dalam hal kuantitas, lokasi tujuan, perpajakan, dan aspek lainnya," kata Eddy Junarsin, Ekonom Universitas Gadjah Mada.
Sejak beroperasi pada 1 Juni 2026, DSI telah mengalisis 6.500 deklarasi ekspor senilai lebih dari US$ 14 miliar dengan volume 90 juta ton komoditas dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi ke 100 negara. Analisis awal DSI bersama sejumlah BUMN mengidentifikasi potensi optimalisasi nilai ekonomi ekspor mencapai sekitar US$ 5 miliar per tahun tanpa harus bergantung pada peningkatan volume pengiriman.
Meski demikian, Eddy mengingatkan bahwa visibilitas data harus diimbangi dengan pengelolaan sumber daya dan perluasan kerja sama perdagangan internasional. "Visibilitas semata belum tentu dapat menggenjot ekspor. Yang diperlukan juga adalah strategi mengelola sumber daya, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, memperluas perjanjian perdagangan bebas, memetakan negara tujuan ekspor, dan mengimplementasikan strategi global," jelas Eddy Junarsin, Ekonom Universitas Gadjah Mada. Keberadaan DSI diharapkan bertindak sebagai penyedia data dan analisis tingkat strategis, sedangkan pelaksanaan strategi bisnis di lapangan tetap dijalankan oleh para eksportir.
"Visibilitas dan top-level strategy dari DSI pada akhirnya membutuhkan implementasi dan business-level strategy dari para eksportir," tegas Eddy Junarsin, Ekonom Universitas Gadjah Mada.
Manajemen DSI saat ini berfokus membangun infrastruktur analitis untuk mendukung pengawasan rantai ekspor serta memastikan kesesuaian nilai transaksi dan devisa hasil ekspor. "Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI," ujar Luke Mahony, Direktur Utama DSI. DSI berkomitmen memperkuat sistem pemantauan dan verifikasi operasional demi menciptakan ekosistem perdagangan yang transparan dan efisien.
"Peran DSI sangat strategis, tetapi implementasinya tetap memerlukan partisipasi aktif perusahaan-perusahaan eksportir," pungkas Eddy Junarsin, Ekonom Universitas Gadjah Mada.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow