MBMA Catat Lonjakan Produksi Tambang SCM dan Percepat Proyek HPAL
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mempertahankan pertumbuhan operasional pada kuartal II-2026, didorong lonjakan produksi tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan kemajuan proyek hilirisasi High Pressure Acid Leach (HPAL), menurut dilansir dari Investor Daily.
Dalam kuartal II-2026, produksi bijih saprolit SCM naik 130% menjadi 2,9 juta wet metric tonnes (wmt), sementara produksi limonit bertambah 87% menjadi 4,7 juta wmt. Kenaikan ini didukung oleh membaiknya harga bijih nikel setelah penerapan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM).
Cash margin saprolit melonjak dari US$ 1 menjadi US$ 26,7 per wmt, sedangkan cash margin limonit meningkat 135% menjadi US$ 10,4 per wmt meski menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo, mengatakan bahwa peningkatan produksi SCM, perbaikan harga bijih, dan kemajuan proyek hilir menunjukkan efektivitas strategi integrasi bisnis perseroan.
"MBMA kembali mencatat kuartal yang kuat, didukung oleh peningkatan produksi SCM, perbaikan harga bijih, dan kemajuan berkelanjutan pada proyek-proyek hilir. Kinerja ini menunjukkan nilai dari platform nikel terintegrasi kami," ujar Teddy.
Teddy menambahkan bahwa perseroan fokus memenuhi pasokan penuh bagi fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dari tambang SCM serta melakukan ramp-up bertahap proyek HPAL guna mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Di segmen pengolahan, produksi Nickel Pig Iron (NPI) termasuk Low-Grade Nickel Matte (LGNM) mencapai 19.505 ton nikel (tNi), naik 16% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 16.748 tNi.
Meski biaya bijih naik, cash margin NPI tumbuh 11% menjadi US$ 1.981 per tNi, didorong kenaikan harga jual rata-rata 28%.
Proyek HPAL PT ESG New Energy Material (PT ESG) memproduksi 4.831 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sepanjang kuartal II-2026. Setelah pemeliharaan dan commissioning fasilitas penyimpanan tailing baru, PT ESG kembali beroperasi dengan throughput sekitar 100 ton per hari pada akhir Juli, dan kapasitas produksi diperkirakan meningkat bertahap.
Sementara itu, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) berkapasitas 90.000 ton per tahun sudah memasuki tahap penyelesaian substansial. Produksi perdana MHP ditargetkan mulai paruh kedua 2026, dengan kapasitas penuh pada akhir tahun, sementara pengajuan Izin Usaha Industri (IUI) masih dalam proses.
Operasi PT Acid Iron Metal (AIM) juga positif dengan produksi asam sulfat sebanyak 258.060 ton dan penjualan 383.177 ton pada kuartal II-2026, didukung permintaan tinggi dari fasilitas HPAL di kawasan industri. AIM telah mendapatkan IUI untuk operasi asam, tembaga, dan emas pada Juli 2026.
MBMA mempertahankan panduan operasional 2026 dengan target pengiriman bijih saprolit 8-10 juta wmt dan penjualan limonit 20-25 juta wmt. Produksi NPI diproyeksikan 70.000-80.000 tNi dengan bahan baku smelter RKEF dari tambang SCM. Produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) ditargetkan 44.000-48.000 ton dan produksi MHP PT ESG diperkirakan mencapai 27.000-30.000 ton.
Hingga 30 Juni 2026, MBMA memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 483 juta serta fasilitas pendanaan belum ditarik senilai US$ 17,6 juta. Perseroan menilai posisi likuiditas ini cukup kuat untuk mendukung ekspansi bisnis nikel terintegrasi dan pengembangan proyek hilir selanjutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow