Laba ESSA Lonjak 103 Persen Pada Semester I 2026
PT ESSA Industries Indonesia Tbk membukukan peningkatan laba bersih sebesar 103,3 persen secara tahunan menjadi US$ 30,2 juta pada semester I-2026, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Selasa (1/9/2026). Kenaikan pendapatan emiten ini ditopang oleh perluasan margin operasi serta solidnya penjualan amonia ke pasar Asia Timur.
Pendapatan perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini tercatat meningkat 35,5 persen secara tahunan mencapai US$ 186,5 juta. Capaian laba bersih tersebut memenuhi 47 persen dari total proyeksi tahunan, sementara realisasi pendapatan telah menyentuh 52 persen dari estimasi keseluruhan tahun 2026.
Peningkatan kinerja operasional turut mendorong perbaikan margin secara menyeluruh. Margin kotor perusahaan meningkat dari 27,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 35,2 persen. Sementara itu, margin operasi naik dari 18,8 persen menjadi 26,7 persen, dan margin EBITDA mencatatkan kenaikan dari 35,9 persen menjadi 39,7 persen.
Struktur penjualan amonia perseroan tercatat didominasi oleh pengiriman ke Korea Selatan dan Taiwan yang menyumbang 81 persen dari total volume penjualan semester I-2026. Dominasi ini memberikan eksposur besar terhadap acuan harga Cost and Freight Far East (CFR Far East) yang cenderung stabil.
Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti memberikan pandangan profesionalnya terkait efisiensi biaya operasional dan tren harga pasar produk emiten tersebut.
"Pendapatan pada paruh pertama tahun ini mencapai 52% dari estimasi KB Valbury untuk setahun penuh 2026. Realisasi laba bersih mencapai 47%," tulis Atikah.
Ia menilai perbaikan margin dan eksposur pasar menjadi kunci stabilitas hasil keuangan perusahaan pada paruh awal tahun.
"Acuan harga tersebut relatif lebih resilien. Harga amonia yang sejalan dengan proyeksi turut menopang kinerja perusahaan sepanjang paruh pertama 2026," jelas Atikah.
KB Valbury Sekuritas menetapkan rekomendasi beli untuk saham ESSA dengan target harga Rp 940 per lembar, yang dihitung menggunakan metode discounted cash flow (DCF). Valuasi tersebut mengasumsikan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) sebesar 12,1 persen, terminal growth 1,5 persen, serta mencerminkan rasio price to earnings (P/E) 14,3 kali untuk estimasi tahun 2026.
Prospek kinerja perseroan masih dibayangi risiko penurunan jika harga amonia berada di bawah US$ 380 per metrik ton. Sebaliknya, potensi kenaikan kinerja dapat terbuka apabila harga amonia mampu bertahan di atas level US$ 500 per metrik ton sepanjang semester II-2026, didukung rencana pengaktifan kembali proyek bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow