Laba Bersih BCA Capai Rp 35 Triliun Per Juli 2026
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp 35,3 triliun sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 2% secara tahunan (yoy), seiring dengan indikasi pemulihan pada margin bunga bersih perusahaan, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Selasa (18/8/2026).
Kinerja bulanan BCA pada Juli 2026 mencatatkan laba bersih senilai Rp 5,1 triliun, atau mengalami kenaikan 5% yoy dan 12% secara bulanan. Akumulasi laba selama tujuh bulan tersebut telah memenuhi sekitar 59% dari proyeksi laba konsolidasi sepanjang tahun 2026 berdasarkan estimasi konsensus pasar.
Pendapatan bunga bersih (NII) BCA pada Juli 2026 tumbuh 4% yoy, membaik dibandingkan periode kumulatif yang sempat stagnan. Peningkatan tersebut didorong oleh margin bunga bersih (NIM) yang naik dari 5,2% pada Juni 2026 menjadi 5,5% pada Juli 2026, sementara penyaluran kredit tumbuh 8% yoy mencapai kisaran Rp 1.000 triliun.
Di sisi lain, pendapatan non-bunga tumbuh 10% yoy pada Juli 2026 dan 7% yoy secara kumulatif. Perbaikan kinerja juga ditopang oleh penurunan beban provisi sebesar 18% yoy pada Juli 2026, yang menekan biaya kredit (CoC) menjadi 0,3% dari posisi 0,5% pada bulan sebelumnya.
Analis dari Stockbit Group memberikan penilaian terkait dinamika operasional perusahaan yang dinilai masih berada di jalur yang sesuai dengan perkiraan awal.
"Sebagai perbandingan, realisasi tujuh bulan pada 2025 setara dengan 61% dari laba konsolidasi sepanjang 2025," ungkap Stockbit Group.
Pertumbuhan kredit dan perbaikan margin dinilai menjadi motor utama pergerakan kinerja keuangan perseroan saat memasuki paruh kedua tahun ini.
"Secara umum, kami melihat momentum kinerja BBCA mulai berakselerasi memasuki 2H26, di mana kredit mulai meningkat dengan NIM yang mulai membaik," jelas Stockbit.
Lembaga riset tersebut juga menyoroti kondisi likuiditas pasar yang berpotensi mendukung fundamental sektor perbankan secara keseluruhan.
"Kami melihat potensi upside bagi fundamental kinerja perbankan dari kondisi likuiditas yang tidak seketat yang dikhawatirkan," pungkas Stockbit.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga saham BBCA sebesar Rp 8.075 untuk jangka waktu 12 bulan ke depan menggunakan metode valuasi gabungan P/BV dan DDM. Namun, Kiwoom memperingatkan risiko seperti potensi tekanan NIM yang berkepanjangan, pelemahan kredit, dan persaingan dana pihak ketiga.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow