Kurs Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.868 per Dolar AS 12 Agustus 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 7 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 17.868 per dolar AS, seperti dikutip dari Investor Daily.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari perdagangan hari sebelumnya, Selasa, 11 Agustus 2026. Pada penutupan kemarin, nilai tukar rupiah tertekan cukup tajam hingga terkoreksi 106 poin atau 0,60 persen ke level Rp 17.861 per dolar AS.
Di sisi lain, pergerakan mata uang Paman Sam cenderung bergerak mendatar pada awal sesi perdagangan di Asia. Mengutip data MarketScreener, pergerakan stabil ini terjadi saat pasar mata uang global masih menantikan rilis data inflasi AS, serta di tengah munculnya serangan baru pada jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Indeks dolar AS tercatat stagnan di posisi 99,839. Kondisi serupa dialami yen Jepang yang tidak bergerak dari level 159,275 per dolar AS, mempertahankan posisinya di kisaran terlemah bulan ini meski otoritas AS dan Jepang baru saja melancarkan intervensi gabungan.
Mata uang utama lainnya turut menunjukkan pergerakan yang cenderung bertahan. Euro tetap berada di kisaran US$ 1,1542 per dolar AS, sementara poundsterling Inggris bertahan pada angka US$ 1,3508 per dolar AS. Pergerakan stagnan juga tercatat pada dolar Australia di posisi US$ 0,7064 per dolar AS dan dolar Selandia Baru di level US$ 0,5879 per dolar AS.
Stabilitas mata uang global terjadi seiring menguatnya harga minyak mentah Brent sebesar 0,6 persen menjadi US$ 89,40 per barel saat perdagangan Asia dibuka. Kenaikan harga acuan minyak ini dipicu aksi penyerangan kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi serta insiden serangan militer AS terhadap kapal kontainer di lepas pantai Pakistan.
Selain ketegangan geopolitik, dinamika pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee. Ia mengindikasikan bahwa bank sentral Amerika Serikat saat ini lebih menaruh perhatian pada tingkat inflasi yang tinggi dibanding potensi pelemahan di pasar tenaga kerja.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow