Kumbang Invasif Mengancam Ribuan Pohon di Stellenbosch dan Dunia
Kumbang lubang polifagus yang berasal dari Asia Timur kini mengancam kelangsungan ribuan pohon di Stellenbosch, Afrika Selatan, dan telah menyebar ke berbagai negara lain. Serangga kecil ini menyerang setidaknya 600 spesies tanaman berkayu, termasuk pohon ek yang menjadi ciri khas kota tersebut, dilansir dari Detik iNET.
Kumbang betina membuat lubang kecil di batang pohon, bertelur, dan menanam jamur sebagai sumber makanan bagi larva. Jamur dan terowongan yang dibuat kumbang menyumbat saluran air pohon, yang sering kali menyebabkan kematian pohon. Kerusakan ini telah mengurangi kanopi hutan kota secara signifikan, kata David Richardson, pakar biologi dari Universitas Stellenbosch.
Berbeda dengan hama lain yang biasanya hanya menyerang satu jenis pohon, penggerek lubang polifagus mampu menginfeksi banyak tanaman berkayu. Selain itu, hanya dibutuhkan satu kumbang betina untuk memulai serangan karena telur yang tidak dibuahi dapat berkembang menjadi pejantan yang nantinya kawin dengan betina.
Serangga ini berasal dari China, Taiwan, dan Vietnam, dan telah menyebar ke Afrika Selatan serta setidaknya enam negara lain. Studi terbaru dalam Journal of Pest Science memetakan penyebaran hama ini dan memperkirakan bahwa kumbang ini dapat menyebar hingga wilayah Mediterania, Amerika Serikat tenggara, Madagaskar, dan sebagian besar Australia bagian timur.
Esteban Ceriani Nakamurakare, ahli entomologi hutan dari Argentina, menyebut penggerek ini sebagai "badai sempurna yang sedang berproses" yang dapat mengubah struktur ekosistem di wilayah yang diserang. Di Amerika Selatan, penyebaran hama ini telah merusak pohon-pohon lanskap termasuk spesies impor seperti box elder dan plane sejak pertama kali terdeteksi di Brasil tahun 2020.
Setelah ditemukan di Afrika Selatan pada 2012, serangga ini mulai menyerang pohon di Stellenbosch, Cape Town, dan wilayah perkotaan lain. Kini hama ini juga menyerang hutan asli dan membunuh beberapa spesies pohon asli.
Di Amerika Serikat, penyebaran penggerek ini dimulai dari California Selatan dan kini telah mencapai San Jose. Ancaman terhadap perkebunan almond, pistachio, dan tanaman lainnya di Central Valley mulai dirasakan serius, ujar Shannon Lynch, ahli patologi hutan di UC Davis.
Berbagai upaya pengendalian sedang dilakukan. Paul Rugman-Jones dari UC Riverside meneliti kemungkinan menggunakan tawon parasitoid sebagai musuh alami untuk mengendalikan hama ini di California.
Australia mengeluarkan biaya sekitar USD 40 juta untuk menebang 5.000 pohon di Perth setelah hama ini ditemukan pada 2021. Namun, upaya ini belum berhasil membasmi serangga tersebut, yang diperkirakan belum mencapai habitat idealnya. Pencegahan dan deteksi dini dianggap sangat penting untuk mengendalikan penyebaran hama ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow