Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen pada Juli 2026
Penyaluran kredit perbankan mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,58 persen secara tahunan (yoy) pada Juli 2026, ditopang oleh ketahanan modal, likuiditas yang memadai, dan risiko kredit yang terjaga, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Berdasarkan catatan lembaga riset IFG Progress pada Minggu (30/8/2026), laju pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan capaian Juni 2026 yang sebesar 12,67 persen yoy. Angka ini sekaligus menjadi tingkat pertumbuhan tertinggi sejak Agustus 2014.
Pendorong utama lonjakan pembiayaan ini berasal dari segmen kredit investasi yang tumbuh 23,09 persen yoy. Sementara itu, kredit modal kerja mencatatkan kenaikan 11,61 persen yoy dan kredit konsumsi tumbuh 5,30 persen yoy.
Pertumbuhan kredit investasi yang signifikan menandakan bahwa pembiayaan makin terarah ke sektor produktif.
"Kinerja kredit investasi yang lebih kuat ini sejalan dengan membaiknya aktivitas investasi dan menunjukkan bahwa ekspansi kredit semakin mendukung pembiayaan produktif, alih-alih didorong terutama oleh pinjaman rumah tangga," ungkap Senior Research Associate IFG Progress, Ibrahim Kholilul Rohman.
Ibrahim menjelaskan bahwa percepatan penyerapan kredit turut didorong oleh langkah makroprudensial yang akomodatif, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga pekan pertama Agustus 2026, insentif KLM yang disalurkan kepada perbankan telah menembus Rp446,5 triliun.
"Secara keseluruhan, kombinasi antara permodalan yang kuat—yang mampu meredam risiko kredit—dan likuiditas yang melimpah memberikan landasan yang mendukung bagi keberlanjutan ekspansi kredit," jelas Ibrahim.
Dari sisi ketahanan industri, Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan berada pada level 23,70 persen per Juni 2026. Rasio kredit bermasalah (NPL) agregat tercatat sebesar 2,09 persen secara bruto dan 0,82 persen secara neto, sedangkan rasio aset likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di tingkat 23,10 persen pada Juli 2026.
"Meskipun demikian, keberlanjutan pertumbuhan kredit dua digit pada akhirnya akan bergantung pada pemulihan aktivitas sektor riil yang terus berlanjut serta kemampuan untuk menerjemahkan dukungan kebijakan menjadi penyaluran kredit produktif tanpa memicu pengambilan risiko yang berlebihan," pungkas Ibrahim.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow