Pinjaman Pusat Data Asia Pasifik Tembus US 15 Miliar
Lonjakan pembiayaan utang untuk pembangunan pusat data di kawasan Asia Pasifik menembus rekor 15 miliar dolar AS pada Selasa (1/9/2026). Nilai ini naik 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, hingga mulai menekan batas kapasitas penyaluran kredit perbankan.
Kondisi keterbatasan likuiditas ini membuat lembaga keuangan di Asia Pasifik kini bertindak lebih selektif dalam mendanai proyek baru, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Data menunjukkan total akumulasi pinjaman sektor infrastruktur komputasi tersebut telah mendekati 29 miliar dolar AS sejak awal tahun lalu.
Tekanan kredit diperkirakan berlanjut seiring rencana pengembang asal Singapura, DayOne Data Centers Ltd., yang tengah bernegosiasi untuk menggandakan pinjamannya menjadi 7 miliar dolar AS. Jika terwujud, nilai tersebut akan mencatatkan rekor pembiayaan utang pusat data terbesar di kawasan Asia.
Guna mengantisipasi risiko konsentrasi kredit yang tinggi, sejumlah lembaga keuangan global mulai melancarkan strategi diversifikasi. Credit Agricole CIB dilaporkan berupaya melepas porsi pinjaman pusat data di Hong Kong, sementara Morgan Stanley menjajaki mekanisme pengalihan risiko signifikan.
Pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan dan percepatan transformasi digital global menjadi pendorong utama melambungnya permintaan infrastruktur skala besar. Sifat proyek yang sangat padat modal membuat pengembang bergantung pada pinjaman bank, sebelum akhirnya terdorong untuk mengalihkan sumber pendanaan jangka panjang ke instrumen pasar modal seperti obligasi proyek dan Efek Beragun Aset.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow