Korut dan Rusia Berencana Kerahkan 50 Ribu Tentara Tambahan

Smallest Font
Largest Font

Rencana besar pengerahan hingga 50.000 tentara tambahan Korea Utara ke wilayah barat Rusia sedang dipertimbangkan oleh Pyongyang dan Moskow. Langkah strategis ini bertujuan membebaskan unit militer Rusia agar dapat memfokuskan serangan ke garis depan pertempuran di Ukraina, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Kamis (13/8/2026).

Dokumen rencana militer sementara Rusia yang diperoleh Badan Intelijen Pertahanan Ukraina (GUR) menargetkan peningkatan jumlah personel tersebut rampung pada akhir November 2026. Penambahan pasukan ini diproyeksikan untuk membantu Rusia merebut seluruh wilayah Donbas di Ukraina timur, termasuk Luhansk dan Donetsk, sebelum pergantian tahun.

Langkah pencarian bantuan personel militer dipicu oleh tingginya angka kerugian pihak Moskow. Pihak intelijen Ukraina memperkirakan lebih dari 42.000 tentara Rusia tewas maupun luka-luka sepanjang Juli 2026. Saat ini, lebih dari 10.000 tentara Korut sudah berada di Rusia bagian barat, dengan sekitar 9.500 pasukan darat terkonsentrasi di wilayah Kursk.

Melalui rencana baru ini, area operasi tentara Korea Utara akan diperluas untuk mengambil alih tugas pengamanan di wilayah Bryansk dan Belgorod. Implementasi skenario tersebut kini hanya tinggal menunggu persetujuan akhir dari pimpinan tertinggi kedua negara.

Keterlibatan Korea Utara juga mencakup pengerahan sekitar 90 personel pasukan rudal ke wilayah Voronezh, Rusia selatan. Pyongyang disinyalir telah menyuplai tambahan 40 rudal balistik yang digunakan Rusia untuk menggempur wilayah Kryvyi Rih dan Zaporizhzhia.

Eskalasi aliansi militer tersebut mendapat perhatian serius dari pihak Kyiv mengenai dampak keamanan kawasan di masa depan.

"Jika tentara Korea Utara mendapatkan pengalaman tempur nyata di medan perang ini, hal tersebut akan menjadi ancaman dan bahaya yang jauh lebih besar bagi keamanan Jepang dan Korea Selatan," kata Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina.

Peningkatan kerja sama militer kedua negara terjadi signifikan setelah penandatanganan Pakta Kemitraan Strategis Komprehensif pada pertengahan 2024. Perjanjian tersebut memuat klausul kewajiban saling bantu secara militer apabila salah satu pihak diserang atau berada dalam kondisi darurat perang.

Dukungan tersebut membantu Rusia mengatasi krisis amunisi, rudal, dan personel. Sebaliknya, Korea Utara memperoleh akses teknologi militer mutakhir, kesempatan menguji alutsista, serta pelatihan pasukan dalam perang modern yang memicu kekhawatiran Korsel dan Jepang.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed